Bapanas Jadikan Pangan Lokal Pilar Utama Kemandirian

Senin, 14 Jul 2025, 02:00 WIB

Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjadikan pangan lokal sebagai pilar masa depan kemandirian pangan nasional melalui penguatan diversifikasi konsumsi dan optimalisasi sumber daya lokal yang melimpah di berbagai daerah Indonesia.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan langkah itu merupakan implementasi dari amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

Ket. Foto: Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi — Sumber: ANTARA /Harianto

"Perpres 81/2024 ini merupakan peta jalan yang kuat untuk mempercepat penganekaragaman konsumsi pangan. Pentingnya pangan lokal sebagai fondasi sistem pangan nasional yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan," kata Arief di Jakarta, Sabtu (12/7).

Sepert dikutip dari Antara, Arief menegaskan pengembangan pangan lokal bukan sekadar solusi untuk ketahanan pangan, tetapi merupakan bagian dari transformasi menyeluruh ekosistem pangan nasional.

"Dengan memanfaatkan potensi pangan lokal seperti sorgum, sagu, jagung, singkong, dan sukun, kita tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah,” ungkap Arief.

Komitmen itu salah satunya diwujudkan dalam kegiatan panen dan pengolahan pascapanen sorgum yang dilaksanakan di Sorgum Center Indonesia – Sekemala Integrated Farming (SEIN Farm), Kota Bandung.

"Kita ingin tidak lagi bergantung hanya pada beras dan terigu. Kita punya sumber karbohidrat lain yang luar biasa ada singkong, sagu, jagung, pisang, sukun, dan tentu saja sorgum," tuturnya.

Sistem Ekonomi

Sementara itu, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto menegaskan diversifikasi pangan harus didorong untuk penguatan pangan nasional.

"Termasuk melalui pengembangan sorgum di Kota Bandung yang sudah terbukti adaptif dan bernilai ekonomi,” kata Andriko.

Andriko menambahkan pangan lokal harus masuk dalam sistem ekonomi nasional, apalagi Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kemandirian pangan.

Menurutnya, sorgum dan pangan lokal lainnya bisa jadi penguat utama. Jika dikembangkan serius, hal itu bisa memperkaya pangan sumber karbohidrat, selain beras dan terigu serta menciptakan nilai ekonomi baru.

"Apalagi sudah ada outlet seperti Koperasi Desa Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis yang bisa menyerap hasilnya,” ungkapnya.

Meski begitu, ia menyadari masih ada tantangan besar, terutama dari sisi preferensi konsumsi masyarakat yang masih sangat tinggi terhadap beras.

Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024, konsumsi beras di Indonesia mencapai 92 kg/kapita/tahun, jauh melebihi singkong (8,5 kg), kentang (2,5 kg), ubi jalar (3,1 kg), dan sagu (0,6 kg).

"Melalui program B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) Goes to School, kami ingin anak-anak sekolah mengenal, mengonsumsi, dan mencintai pangan lokal sejak dini. Sepanjang tahun 2024 kemarin kami telah menjangkau 380 sekolah di 38 provinsi dan lebih dari 80 ribu siswa,” kata Andriko.

Dengan menjadikan pangan lokal sebagai fondasi, Indonesia tidak hanya akan mencapai kemandirian, tapi juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif pada ekonomi petani dan produsen lokal.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.