- Home
-
- Luar Negeri
-
- Para Pemimpin BRICS Berkum...
Para Pemimpin BRICS Berkumpul di Brasil Tanpa Putin dan Xi Jinping
Sabtu, 05 Jul 2025, 09:35 WIBRIO DE JANEIRO - Para pemimpin BRICS yang bertemu di Rio de Janeiro mulai hari Minggu (5/7) diperkirakan akan mengecam kebijakan perdagangan garis keras Donald Trump. Namun mereka berjuang untuk menjembatani perpecahan atas krisis yang melanda Timur Tengah.
Negara-negara berkembang yang mewakili sekitar setengah populasi dunia dan 40 persen dari output ekonomi global siap bersatu atas apa yang mereka lihat sebagai tarif impor AS yang tidak adil, menurut sumber yang mengetahui negosiasi pertemuan puncak.
Sejak menjabat pada bulan Januari, Trump telah mengancam sekutu dan pesaingnya dengan serangkaian tarif hukuman.
Serangan terbarunya datang dalam bentuk surat yang akan dikirim mulai hari Jumat untuk memberi tahu mitra dagang AS tentang tarif baru yang berlaku pada tanggal 9 Juli.
Para diplomat dari 11 negara berkembang, termasuk Brasil, Russia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, sibuk menyusun pernyataan yang mengecam ketidakpastian ekonomi.
Deklarasi akhir KTT tidak diharapkan menyebutkan nama Amerika Serikat atau presidennya. Namun, deklarasi tersebut diharapkan menjadi serangan politik yang jelas terhadap Washington.
"Kami mengantisipasi pertemuan puncak dengan nada hati-hati: akan sulit untuk menyebut nama Amerika Serikat dalam deklarasi akhir," kata Marta Fernandez, direktur Pusat Kebijakan BRICS di Universitas Katolik Kepausan Rio.
Hal ini khususnya berlaku bagi Tiongkok, yang baru saja bernegosiasi dengan AS untuk menurunkan pungutan balasan yang tinggi.
"Ini tampaknya bukan saat yang tepat untuk memancing ketegangan lebih lanjut" antara dua ekonomi terkemuka dunia, kata Fernandez.
Xi Tidak HadirÂ
Dikonsep dua dekade lalu sebagai forum bagi ekonomi-ekonomi yang bertumbuh cepat, BRICS mulai dipandang sebagai penyeimbang kekuatan Barat yang digerakkan Tiongkok.
Namun, pengaruh politik pertemuan puncak itu akan berkurang karena ketidakhadiran Pemimpin Tiongkok Xi Jinping, yang melewatkan pertemuan tahunan itu untuk pertama kalinya dalam 12 tahun masa jabatannya sebagai presiden.
"Saya menduga akan ada spekulasi mengenai alasan ketidakhadiran Xi," kata Ryan Hass, mantan direktur Tiongkok di Dewan Keamanan Nasional AS yang kini bergabung dengan lembaga think tank Brookings Institution.
"Penjelasan yang paling sederhana mungkin memiliki kekuatan penjelasan yang paling kuat. Xi baru-baru ini menjamu Lula di Beijing," kata Hass.
Pemimpin Tiongkok itu bukan satu-satunya yang absen. Presiden Russia Vladimir Putin yang didakwa atas kejahatan perang juga memilih untuk tidak hadir, tetapi akan berpartisipasi melalui tautan video, menurut Kremlin.
Hass mengatakan ketidakhadiran Putin dan fakta bahwa Perdana Menteri India akan menjadi tamu kehormatan di Brasil juga bisa menjadi faktor ketidakhadiran Xi.
"Xi tidak ingin terlihat kalah pamor dari Modi," yang akan menerima jamuan makan siang kenegaraan, ungkapnya.
"Saya menduga keputusan Xi untuk mendelegasikan kehadiran kepada Perdana Menteri Li (Qiang) didasarkan pada faktor-faktor ini."
Meski begitu, ketidakhadiran Xi merupakan pukulan bagi Presiden tuan rumah Luiz Inacio Lula da Silva, yang menginginkan Brasil memainkan peran lebih besar di panggung dunia.
Pada bulan November 2025, Brasil akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak G20, pertemuan puncak BRICS, dan perundingan iklim internasional COP30, sebelum menuju pemilihan presiden yang sengit tahun depan, di mana ia diperkirakan akan mencalonkan diri.
Jalan Tengah
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang negaranya masih belum pulih dari konflik 12 hari dengan Israel, juga melewatkan pertemuan tersebut.Â
Sebuah sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan negara-negara BRICS masih berselisih pendapat mengenai cara menanggapi perang di Gaza dan Iran-Israel. Â
Para negosiator Iran mendorong sikap kolektif yang lebih tegas, yang tidak hanya merujuk pada perlunya pembentukan negara Palestina dan penyelesaian perselisihan secara damai.
Kecerdasan buatan dan kesehatan juga akan menjadi agenda di pertemuan puncak tersebut.
Anggota asli blok tersebut, Brassil, Rusia, India, dan Tiongkok telah bergabung dengan Afrika Selatan dan, baru-baru ini, oleh Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, Etiopia, dan Indonesia.
Para analis mengatakan hal ini telah memberi kelompok itu potensi pukulan internasional yang lebih besar.
Namun, hal ini juga membuka banyak garis patahan baru.
Brasil berharap negara-negara dapat mengambil sikap bersama di pertemuan puncak tersebut, termasuk pada isu-isu yang paling sensitif.
"(Negara-negara) BRICS, sepanjang sejarah mereka, telah berhasil berbicara dengan satu suara mengenai isu-isu internasional utama, dan tidak ada alasan mengapa hal itu tidak berlaku kali ini mengenai masalah Timur Tengah," kata Menteri Luar Negeri Brasil Mauro Vieira kepada AFP.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Indonesia Krisis Pekerjaan Layak
-
Tetap Perkasa, BRICS Tidak akan Mampu Gulingkan Dolar AS Sampai Sepuluh Tahun ke Depan
-
Kelola KEK Maloy Lebih Serius, Kaltim Bidik Investasi Skala Besar
-
Pemkot Makassar: Sejumlah Negara Jajaki Kerja Sama Komoditas dan Pariwisata Sulsel.
-
Indonesia Hadapi Tantangan Besar: Bisa Tetap Non-Blok setelah Gabung BRICS?
-
Risiko Kedekatan Prabowo dengan BRICS: Reputasi Non-blok Indonesia Dipertaruhkan
-
Presiden Prabowo Turun ke Sawah di Gorontalo, Saksikan Langsung Cara Tanam Petani di PENAS KTNA XVII.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.