Tetap Perkasa, BRICS Tidak akan Mampu Gulingkan Dolar AS Sampai Sepuluh Tahun ke Depan

Selasa, 20 Mei 2025, 13:21 WIB

BRASILIA - Direktur Kebijakan Moneter Bank Sentral Brazil atau Central Bank of Brazil, Nilton David pada hari Senin (19/5), mengatakan, ia tidak melihat prospek realistis bagi negara-negara berkembang dalam kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, dan Uni Emirat Arab) dalam menciptakan pasar yang cukup besar untuk menggulingkan dominasi dolar Amerika Serikat dalam 10 tahun ke depan. 

Dikutip dari Bangkok Post, tidak ada stok aset berdenominasi Brics yang signifikan yang dapat mengimbangi dolar saat ini, kata David dalam webcast bank sentral. "Saya tidak berpikir itu akan berubah selama dekade mendatang," tambahnya.

Ket. Foto: Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri India Narendra Modi menghadiri upacara foto sebelum sesi pleno KTT Brics 2024 di Kazan, Rusia, pada 23 Oktober 2024. — Sumber: Istimewa

David mengakui bahwa alat penyelesaian alternatif dapat memperoleh daya tarik dan membantu meningkatkan kesepakatan perdagangan bilateral, tetapi belum cukup untuk menggeser dolar dalam jangka panjang.

Kepemimpinan Brazil dalam Brics tahun ini akan mengesampingkan pembicaraan tentang mata uang bersama, dan sebaliknya berfokus pada cara-cara untuk memangkas ketergantungan pada dolar, seperti menghubungkan sistem pembayaran dan mengeksplorasi standar blockchain yang ditetapkan oleh badan-badan seperti Bank for International Settlements.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali memperingatkan kelompok Brics - yang anggota aslinya adalah Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok - agar tidak berupaya menantang supremasi dolar.

David juga mengatakan bahwa ia memandang bitcoin sebagai "mata uang yang sifatnya spekulatif," dan mencatat bahwa cadangan devisa Brasil sebesar 340 miliar dolar AS sebagian besar masih dalam bentuk dolar karena hampir semua transaksi eksternal negara tersebut diselesaikan dalam mata uang AS.

Menurut direktur tersebut, bank sentral ingin menjaga likuiditas dan kedalaman pasar valuta asing tetapi mengakui bahwa fitur-fitur ini memiliki efek samping.

David mencatat bahwa real Brasil memiliki korelasi "alami" dengan aset berisiko, sehingga membuatnya lebih fluktuatif.

Hal ini sering menjadi titik tumpu bagi para manajer portofolio, katanya, seraya menambahkan bahwa hal ini menarik para investor yang memegang mata uang tersebut hanya dalam waktu singkat, sehingga menyebabkan permintaan berfluktuasi tajam.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.