Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PDIP Menangis, Saat Fadli Zon Tanggapi Pemerkosaan Massal '98

Kamis, 03 Jul 2025, 13:02 WIB

Jakarta – Suasana rapat kerja Komisi X DPR RI memanas saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan pendapatnya mengenai istilah "pemerkosaan massal" pada tragedi Mei 1998. Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat Wakil Ketua Komisi X dari Fraksi PDI?P, Maria Yohana?Esti?Wijayanti, meneteskan air mata.

1. Keraguan atas istilah “massal”

Fadli Zon mengakui adanya peristiwa pemerkosaan, namun mempertanyakan penggunaan kata “massal”, yang menurutnya membawa konotasi sistematis dan terstruktur seperti dalam kasus Nanjing atau Bosnia. Ia juga menyebut bahwa sebagian foto yang beredar mungkin berasal dari luar negeri, seperti Hong Kong dan Jepang, sehingga perlu pendokumentasian lebih teliti.


2. Emosi My Esti: “Semakin Bicara, Semakin Sakit”

Saat Fadli memperkuat argumennya, Esti interupsi dengan suara bergetar dan tatapan berlinang:

“Semakin Pak Fadli Zon ini bicara, rasanya kenapa semakin sakit ya?... ini semakin menunjukkan Pak Fadli Zon tidak punya kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi korban perkosaan”.

Politikus PDIP itu meminta agar diskusi tak berpindah pada ranah teoritis semata karena melukai perasaan korban. Esti menegaskan bahwa peristiwa kekerasan seksual tersebut sungguh terjadi “intinya memang peristiwa itu terjadi”.

3. Suara serupa: Mercy Chriesty Barends juga Terpukul

Tidak lama setelah Esti, anggota Komisi X lain dari PDIP, Mercy Chriesty Barends, juga terisak. Ia mengangkat pengalaman dokumentasi korban, bahkan membandingkan dengan pengakuan Jepang atas kasus Jugun Ianfu:

“Pemerintah Jepang menerima semua, ini pemerintah Jepang! Duta Besarnya sampai menunduk terhadap kasus jugun ianfu… Kita bangsa sendiri kenapa begitu berat menerima ini?”

Mercy menyebut testimoni korban begitu traumatis sampai membuatnya “tidak bisa tidur… tidak bisa makan karena terlalu kejam”.

4. Fadli Zon Akui, Minta Maaf atas “Insensitivitas”

Mendapati situasi emosional, Fadli segera menanggapi “Terjadi, Bu. Saya mengakui… saya minta maaf. Kalau ini terkait dengan insensitifitas… saya sekali lagi mengutuk dan mengecam itu juga”.

Namun, ia tetap mempertahankan argumen terkait istilah “massal”, menyatakan bahwa hingga kini belum ada fakta hukum dan pelaku yang teridentifikasi secara jelas.

5. Retorika yang Menyentuh Luka Lama

Rangkaian emosional ini memperlihatkan konflik antara aspek historis dan empati. Sebagian anggota DPR menilai penyikapan Fadli terlalu akademis, tanpa meletakkan empati terhadap korban sebagai prioritas. “Penjelasan Bapak yang sangat teori seperti ini… akan membuat luka dalam,” ucap Esti.

Suasana rapat yang awalnya formal menjadi sangat manusiawi—detak emosi yang membongkar kekelaman sejarah 1998 dan tantangan bagaimana bangsa ini menuliskannya.

Perdebatan semantik mengenai istilah "massal" tidak hanya menyangkut akurasi historis, tetapi juga bagaimana narasi tersebut mempengaruhi rasa keadilan dan penghormatan terhadap korban. Tangis Esti dan Mercy adalah peringatan: tanpa kepekaan, ulang-usik sejarah bisa membuka luka lama.

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.