Pogacar Kejar Kemenangan ke-100  Tour de France

Rabu, 02 Jul 2025, 02:02 WIB

PARIS - Tour de France kembali bergulir Sabtu (5/7) dengan bintang besar Tadej Pogacar menjadi sorotan utama. Dia akan bertanding dengan rute sepanjang 3.338 kilometer yang kembali sepenuhnya ke tanah Prancis untuk pertama kalinya sejak 2020.

Setelah edisi-edisi sebelumnya dibuka di luar negeri seperti Florence, Bilbao, dan Kopenhagen, balapan paling bergengsi di dunia balap sepeda tahun ini mengusung semangat klasik dengan rute yang sangat menguntungkan para pendaki. “Kami memutuskan untuk membawa Tour pulang, sudah saatnya setelah beberapa kali start di luar negeri,” ujar direktur balapan Christian Prudhomme.

Ket. Foto: Pogacar — Sumber: ist

Seluruh lintasan Tour 2025 berada di wilayah Prancis, suatu hal yang terakhir kali terjadi pada edisi yang tertunda akibat pandemi. Ini juga terjadi di tengah peringatan gelombang panas yang melanda sebagian besar negeri, dengan suhu di wilayah selatan Prancis sempat menembus 40 derajat Celsius pada hari Minggu.

Meskipun suhu ekstrem diperkirakan akan mereda di akhir pekan, para pembalap tetap akan diuji ketahanan fisik dan mentalnya di medan legendaris Prancis yang kerap disebut sebagai stadion “terindah” di dunia. “Tempat yang luar biasa bagi para pahlawan luar biasa,” tambah Prudhomme. Dia mantan eksekutif TV yang telah mengubah Tour menjadi tontonan global yang disiarkan di 190 negara.

Selama 21 hari di bulan Juli, balapan berat ini akan menjadi daya tarik bagi jutaan penonton, baik penggemar sepeda maupun turis virtual dari seluruh dunia. Pogacar, pemimpin UAE Team Emirates, memulai balapan sebagai favorit kuat di mata publik dan bandar taruhan.

Dia bisa menegaskan statusnya sebagai raja balap sepeda dengan mengalahkan rival utamanya, Jonas Vingegaard dari tim Visma. Legenda balap sepeda Amerika Serikat, Greg LeMond, menyebut duel keduanya akan menjadi penentu. “Pogacar itu seperti satu dari sejuta, tapi Anda tidak bisa meremehkan Vingegaard. Ini yang membuat dunia balap sepeda saat ini begitu seru,” ujar LeMond, juara Tour de France 1986, 1989, dan 1990.

Duel langsung antara Pogacar dan Vingegaard di lereng Alpen atau di sepanjang jalur spektakuler French Riviera diprediksi menghadirkan ketegangan dan drama setara rivalitas klasik era lampau. Dengan gaya menyerang agresif sejak awal, Pogacar yang baru berusia 26 tahun memiliki 21 etape untuk menambah koleksi 99 kemenangan profesionalnya.

Berbanding terbalik, Vingegaard dikenal dengan pendekatan yang lebih sabar dan terencana. Dia kerap menanti momen tepat untuk melancarkan serangan pamungkas yang telah dipersiapkan matang. Manajer tim Visma, Grischa Niermann, mengonfirmasi keyakinannya pada strategi tersebut. “Kami percaya rencana ini akan menghasilkan hasil terbaik,” ujarnya.

Dalam lima edisi terakhir, keduanya telah membagi gelar juara: Pogacar menang dua kali, Vingegaard tiga kali. Rivalitas mereka pun akan makin mencuri perhatian seiring berjalannya balapan. Sebanyak 184 pembalap dari 23 tim akan berkumpul di Lille untuk Grand Depart. Otoritas lokal bersiap menghadapi gelombang suporter, terutama dari Belgia yang memang dikenal sebagai negeri penggemar balap sepeda.

Etape-etape awal diprediksi langsung menyuguhkan pertarungan ketat untuk merebut kaus kuning pemimpin klasemen umum, dengan kerumunan penonton hingga ratusan ribu orang tiap harinya. Remco Evenepoel, bintang muda Belgia, juga akan mendapat dukungan besar saat balapan melewati wilayah utara seperti Dunkirk dan Caen.

Ini adalah  kawasan bersejarah yang pernah menjadi saksi pertempuran hebat di Perang Dunia II, sebelum berpindah ke Brittany, wilayah hijau yang juga menjadi jantung balap sepeda Prancis. Gunung-gunung pertama baru hadir di etape ke-10 saat peloton mendaki wilayah vulkanik Puy de Dome.

Dua hari mendaki berat di Pegunungan Pyrenees menyusul, sebelum menuju pekan terakhir yang spektakuler di Pegunungan Alpen. Namun, sebelum menyentuh garis finis legendaris di Champs-Elysees, ada satu kejutan terakhir.

Etape penutup Tour tahun ini ditambahkan secara mendadak sebagai penghormatan atas kesuksesan balap jalan raya Olimpiade Paris 2024. Final akan melintasi jalan berbatu sempit yang mendaki menuju Basilika Sacre-Cœur di Montmartre, tempat ribuan penonton pernah memadati jalur tahun lalu.

Di tanjakan terakhir itulah, suara riuh penonton akan mengiringi pembalap menuju mahkota juara. Sebuah penutup dramatis bagi balapan penuh sejarah yang kembali ke akar tradisinya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.