Ibadah Haji Hukumnya Jadi Tidak Wajib, Pandangan Pakar Fikih Muamalah dan Ekonomi Syariah

Selasa, 01 Jul 2025, 04:24 WIB
Jakarta; Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang memiliki posisi agung dalam ajaran Islam. Namun, hukum melaksanakan ibadah haji tidak berlaku secara seragam bagi setiap individu. Dalam konteks fiqih, hukum haji bisa berbeda tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing umat Islam. Dalam situasi tertentu, hukum haji bisa menjadi fardhu 'ain, fardhu kifayah, atau bahkan bernilai tathawwu' (sukarela).

Yang menjadi catatan penting, kewajiban haji hanya berlaku satu kali dalam seumur hidup seorang Muslim, dan itu pun hanya bagi mereka yang memenuhi syarat-syarat istitha'ah (kemampuan), baik dari aspek finansial, fisik, maupun keamanan. Hal ini sebagaimana yang telah digariskan dalam hukum Islam.

Namun demikian, realita pelaksanaan ibadah haji di Indonesia menghadirkan dinamika tersendiri. Jumlah calon jamaah haji yang terus meningkat setiap tahunnya tidak sebanding dengan kuota keberangkatan yang tersedia, sehingga menciptakan antrean yang sangat panjang, bahkan hingga puluhan tahun. Situasi ini menjadi salah satu dasar pertimbangan hukum baru dalam pelaksanaan ibadah haji bagi warga negara Indonesia.

Salah satu tokoh yang angkat bicara mengenai persoalan wajib tidaknya berhaji bagi orang Indonesia adalah Ustadz DR Erwandi Tarmizi, seorang pakar fikih muamalah dan ekonomi syariah terkemuka. Dalam berbagai forum ilmiah, beliau menyampaikan bahwa kewajiban haji bagi Warga Negara Indonesia (WNI) saat ini dapat dianggap gugur secara syar’i, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan faktual dan hukum.

Berikut beberapa poin penting dari penjelasan beliau:

1. Masa Tunggu yang Terlalu Panjang
Menurut Ustadz Erwandi, antrean haji reguler di Indonesia saat ini bisa mencapai 20 hingga 50 tahun. Artinya, seorang Muslim yang mendaftar haji pada usia 40 tahun, belum tentu bisa berangkat hingga usianya mencapai 60 atau 90 tahun. Dalam banyak kasus, para calon jamaah meninggal dunia atau mengalami penurunan kesehatan sebelum giliran keberangkatan tiba. Oleh karena itu, dalam pandangan syariat, orang yang berada dalam kondisi seperti ini tidak lagi tergolong mampu secara syar’i, karena ketidakpastian untuk bisa melaksanakan haji secara fisik di masa depan.

2. Haji Tidak Lagi Wajib Jika Terdapat Antrean yang Tidak Wajar
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kewajiban haji bisa gugur karena keberadaan antrean panjang itu sendiri. Hal ini merujuk pada hasil ijtima’ (musyawarah) para ulama, yang menyimpulkan bahwa ketika masa tunggu haji sudah tidak wajar dan membuat keberangkatan tidak dapat dipastikan, maka status hukum haji bagi individu yang terkena kondisi tersebut berubah. Dalam situasi seperti ini, haji tidak lagi menjadi fardhu 'ain secara mutlak.

3. Haji Khusus dan Haji Furoda: Tidak Menjadi Solusi
Alternatif seperti haji furoda (visa undangan), haji plus, atau haji khusus yang biasanya menjanjikan keberangkatan lebih cepat juga tidak lepas dari sorotan. Ustadz Erwandi menilai bahwa berbagai skema ini mengandung unsur ketidakpastian (gharar) yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Banyak jamaah yang gagal berangkat meski sudah membayar mahal, sementara sebagian lainnya menghadapi ketidakjelasan visa dan prosedur keberangkatan. Oleh sebab itu, beliau tidak merekomendasikan jalur ini sebagai solusi yang sah secara fikih.

Solusi Alternatif: Umrah di Bulan Ramadhan
Sebagai solusi ibadah yang tetap memiliki nilai besar, Ustadz Erwandi menyarankan umat Islam untuk melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Merujuk pada hadits shahih, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa "umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji" dari sisi pahala, meskipun tidak menggantikan haji secara hukum. Dengan biaya yang lebih terjangkau, waktu pelaksanaan yang fleksibel, dan prosedur yang lebih sederhana, umrah bisa menjadi jalan ibadah yang lebih realistis sekaligus tetap bernilai tinggi di sisi Allah SWT.


Dalam konteks sosial dan fiqih kontemporer, kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi umat Islam di Indonesia memang tidak bisa dipaksakan secara kaku. Ketentuan syariat membuka ruang ijtihad berdasarkan realitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Pernyataan Ustadz Erwandi Tarmizi menegaskan bahwa agama tidak mempersulit umatnya, dan dalam kondisi tertentu, gugurnya kewajiban haji adalah bentuk kasih sayang dan kemudahan dari Allah SWT. Sebagai umat, penting untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut, sambil tetap semangat menjalankan ibadah lain yang memiliki nilai dan pahala yang tinggi.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Winoto Wahyu

Berita Terbaru

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.