Malaysia Meminta RI Jadi Mediator Kelompok yang Bertikai di Myanmar

Senin, 30 Jun 2025, 02:05 WIB

JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden RI, Prabowo Subianto untuk mengerahkan intelijen dan kemampuan militer Indonesia dalam menjembatani kelompok-kelompok yang berkonflik di Myanmar agar mereka dapat bertemu dan berdialog.

Perang saudara di Myanmar merupakan salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan empat mata antara Presiden Prabowo dan PM Anwar dalam rangkaian kunjungan kerja PM Anwar di Istana Merdeka, Jakarta, pada akhir pekan lalu. Isu tersebut juga menjadi salah satu perhatian ASEAN, yang sejak 1 Januari 2025 dipimpin oleh Malaysia.

Ket. Foto: Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim — Sumber: koran jakarta /m fachri

“Saya meminta bantuan Bapak Presiden untuk menggunakan segala kapasitas militer maupun intelijen, bukan dalam bentuk serangan, tetapi untuk berdialog dan menjembatani kesepahaman di antara kelompok-kelompok di Myanmar,” kata Anwar di Istana Merdeka Jakarta usai bertemu Prabowo.

Indonesia katanya memiliki pengalaman dan sejarah panjang yang dapat membantu meredakan konflik dan mengurangi ketegangan perang saudara di Myanmar. “Mengenai Myanmar, saya mengucapkan terima kasih atas keterlibatan Indonesia yang mendukung upaya penyelesaian damai,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengungkap keprihatinan Indonesia dan Malaysia terhadap konflik di perbatasan Thailand dan Kamboja.

“Kita merasa perlu mendekati dua negara agar ketegangan dapat diredakan,” katanya.

Ia pun meyakini Indonesia dan Malaysia saling mendukung terutama dalam menghadapi berbagai persoalan di kawasan. Indonesia, menurut dia, juga konsisten mendukung Malaysia saat negaranya itu pada tahun ini memimpin ASEAN.

“Saat Indonesia memimpin ASEAN, Malaysia memberikan dukungan penuh dan kini, ketika Malaysia memegang giliran kepemimpinan, Indonesia melalui Presiden, Menteri Luar Negeri, dan para menteri lainnya memberikan kerja sama yang luar biasa. Ini memungkinkan kita menyelenggarakan pertemuan ASEAN bersama mitra seperti GCC dan Tiongkok dengan sukses,” kata PM Anwar.

Sebagai Mediator

Berkaitan dengan harapan Anwar Ibrahim itu, Presiden Prabowo langsung memanggil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M. Herindra yang pada kesempatan yang sama turut hadir di Istana Merdeka.

Presiden kemudian terlihat berbicara dengan Herindra dan kemudian pembicaraan itu menjadi tiga arah antara Presiden Prabowo, PM Anwar, dan Kepala BIN.

Herindra, selepas menerima instruksi dari Presiden Prabowo dan mendengar pembicaraan PM Anwar, terlihat menyatakan kesiapannya.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti yang diminta pendapatnya mengatakan

Konflik Myanmar terjadi karena negara tersebut menghalangi proyek ambisius Tiongkok.

Menurut Esther, Indonesia lebih tepatnya mengambil posisi sebagai mediator dengan menjembatani dialog antarpihak yang bertikai.

  • stabilitas kawasan

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.