Minyak Dunia Naik Gila-Gilaan, Indonesia Paling Babak Belur!

Senin, 23 Jun 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Harga minyak global diperkirakan makin meningkat seiring campur tangan Amerika Serikat (AS) dalam perang antara Iran dan Israel. Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah tersebut diyakini bakal berdampak pada lonjakan harga komoditas global, terutama minyak mentah dunia.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai paling rentan. Selain sebagai salah satu importir terbesar minyak, RI juga merupakan negara kepulaun.

Ket. Foto: Waspadai Lonjakan Harga Minyak — Sumber: istimewa

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat OPEC (organisasi negara negara eksportir minyak) dan penjaga jalur kritis yaitu Selat Hormuz. Sekitar 20 persen suplai minyak global melewati selat ini yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Karenanya, kapal tanker harus berputar melalui jalur selatan Afrika. Gangguan jalur distribusi tersebutmenambah waktu tempuh dan biaya sehingga berdampak pada peningkatan inflasi global.

"Sejak kabar serangan udara dikonfirmasi, pasar berjangka minyak mentah melonjak tajam. Dalam waktu singkat, harga minyak menyentuh 80 dollar AS per barel dari sebelumnya menyentuh78 dollar AS per barel," tulis Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Achmad Nur Hidayat di Jakarta, Minggu (22/6).

Dia menambahkan apabila ketegangan berlanjut sepekan ke depan, harga minyak mentah dunia bisa mencapai 110 dollar AS per barel. Bahkan, jika Iran benar-benar memblokir Selat Hormuz, harga komoditas tersebut bisa menembus 150–170 dollar AS per barel.

Efek domino dari perang tersebut sangat luas, yaitu inflasi global, pembengkakan biaya logistik, tekanan fiskal bagi negara berkembang, dan tentu saja, ancaman resesi. Negara importir energi, seperti Indonesia akan sangat terpukul.

Wakil KetuaXII DPR RI Dony Maryadi Oekon menekankan perlunya kewaspadaan pemerintah menghadapi potensi kenaikan harga energi ini. "Karena kondisi dunia ini kan sekarang memang paradigma seperti itu. Kalau pada saat sesuatu terjadi, ada perang atau ada apa, fluktuasi dari harga ini sendiri kan akan bermain," ujar Dony.

Dia menjelaskan, kenaikan harga minyak dan energi secara keseluruhan pasti akan berdampak pada Indonesia, mengingat kebutuhan migas dalam negeri yang sangat tinggi dan terus meningkat. Dony mengungkapkan produksi minyak bumi Indonesia saat ini masih jauh dari target. Dari capaian 1 juta barel per hari di masa lalu, kini produksi harian hanya berkisar 580-590 ribu barel, bahkan belum mencapai target 600 ribu barel.

Negara Kepulauan

Pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa mengatakan gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur ekspor utama minyak global, menjadi ancaman langsung bagi stabilitas sistem logistik dunia, termasuk bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

“Ketika jalur pelayaran utama terganggu, maka seluruh rantai logistik global terdampak. Kapal harus menyesuaikan rute dan waktu tempuh, sementara biaya seperti bunker fuel dan asuransi ikut melonjak. Ini memukul industri pelayaran nasional kita yang sebagian besar masih mengandalkan kapal-kapal tua,” kata Marcellus.

Dari kalkulasi Marcel tarif pengapalan atau freight dari dan ke pelabuhan Indonesia bisa naik antara 20 hingga 30 persen. Kenaikan itu menurunkan daya saing ekspor komoditas seperti batu bara, CPO, karet, hingga produk perikanan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.