Thailand Bantah Tutup Perbatasan dengan Kamboja

Rabu, 18 Jun 2025, 02:50 WIB

BANGKOK - Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, pada Senin (16/6) malam mengatakan  bahwa Thailand belum menutup perbatasannya dengan Kamboja, tetapi hanya mengambil beberapa tindakan kontrol perbatasan berdasarkan situasi dan keamanan yang berkembang, sambil menekankan bahwa Thailand tidak akan menerima segala bentuk ancaman apapun.

Berbicara kepada media, PM Paetongtarn mengklarifikasi bahwa perbatasan Thailand-Kamboja tetap terbuka, tetapi jam buka di penyeberangan telah disesuaikan berdasarkan penilaian keamanan dan pihak Thailand telah berkomunikasi dengan pihak Kamboja.

Ket. Foto: Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra (kanan) menyapa warga desa di perbatasan saat kunjungan ke Distrik Kap Choeng di Provinsi Surin yang berbatasan dengan Kamboja pada 11 Juni lalu. — Sumber: AFP/ROYAL THAI GOVERNMENT

Mengomentari sambutan dan pesan publik oleh pihak Kamboja, PM Paetongtarn menyatakan bahwa tindakan negara tetangganya tersebut tidak termasuk dalam kerangka mekanisme bilateral resmi dan tidak membantu dalam menyelesaikan perselisihan, seraya memperingatkan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan kesalahpahaman yang tidak perlu.

Untuk memfasilitasi dialog lebih lanjut, PM Paetongtarn mengatakan Thailand telah mengusulkan pertemuan antara militer kedua negara untuk membahas kerja sama di masa depan dan mekanisme respons bersama.

Larangan Impor

Pernyataan PM Thailand itu diutarakan menyusul keluarnya peringatan dari presiden senat yang juga adalah mantan pemimpin berpengaruh Kamboja, Hun Sen, yang  sebelumnya mengancam akan melarang impor sayuran dan buah-buahan dari Thailand dalam waktu 24 jam jika Thailand tidak menormalkan operasi di penyeberangan perbatasan.

Dan pada Selasa (17/6), Kamboja telah menerapkan larangan impor buah dan sayur dari Thailand karena kedua negara bertikai dalam sengketa perbatasan yang berujung pada bentrokan militer berdarah bulan lalu itu, gagal mencapai kesepahaman.

Seorang tentara Kamboja tewas pada tanggal 28 Mei lalu ketika masing-masing pasukan saling tembak di wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, tempat perbatasan Kamboja, Thailand, dan Laos bertemu. Tentara Thailand dan Kamboja mengatakan bahwa mereka bertindak untuk membela diri.

Thailand telah memberlakukan pembatasan perbatasan dengan Kamboja dalam beberapa hari terakhir, sementara Kamboja melarang penayangan drama Thailand dari TV dan bioskop, menutup pos pemeriksaan perbatasan yang ramai, serta memutus jaringan internet dari Thailand.

Pihak berwenang Kamboja mengatakan pada Selasa bahwa mitra mereka dari Thailand masih memberlakukan pembatasan perbatasan, dan ultimatum Hun Sen mulai berlaku.

"Kami telah menerapkan larangan impor buah dan sayuran Thailand sejak pagi ini," kata Sok Veasna, direktur jenderal DInas Umum Imigrasi, kepada AFP.

Sebelumnya Kamboja pun telah secara resmi meminta Mahkamah Internasional (ICJ) untuk membantu menyelesaikan sengketa perbatasan di empat wilayah yaitu lokasi bentrokan bulan lalu dan tiga lokasi kuil kuno.

Hun Sen mengatakan pada Senin bahwa negaranya harus mengadu ke ICJ karena Kamboja menginginkan perdamaian setelah kedua negara tidak akan pernah mencapai kesepakatan di empat wilayah sengketa tersebut.

Dalam seruannya, Hun Sen juga meminta puluhan ribu migran Kamboja yang bekerja di Thailand untuk kembali ke tanah air, dengan mengatakan mereka akan menghadapi diskriminasi yang semakin meningkat seiring berlanjutnya perselisihan perbatasan.

Perselisihan ini bermula saat pemetaan garis batas wilayah negara sepanjang 800 kilometer pada awal abad ke-20 saat pendudukan Prancis di Indochina.

Kekerasan yang dipicu oleh pertikaian wilayah tersebut tercatat telah menyebabkan 28 kematian sejak 2008. AFP/Xinhua/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.