- Home
-
- Luar Negeri
-
- PM Jepang Ishiba ke Kanada...
PM Jepang Ishiba ke Kanada, Perjuangkan Nasib Industri Otomotif dalam Bayang-Bayang Tarif Trump
Minggu, 15 Jun 2025, 15:10 WIBJAKARTA - Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba bertolak ke Kanada pada Minggu untuk menghadiri KTT G7 di Kananaskis, Alberta, sekaligus menggelar pembicaraan perdagangan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump. Fokus utama kunjungan ini adalah membujuk Trump mencabut tarif perdagangan yang selama ini membebani industri otomotif Jepang dan mengancam stabilitas pemerintahannya yang sedang rapuh.
Ishiba dan Trump dijadwalkan menggelar pertemuan tatap muka kedua mereka, menyusul perundingan tingkat tinggi keenam yang berlangsung di Washington pada Jumat sebelumnya. Dalam pembicaraan tersebut, negosiator tarif Jepang Ryosei Akazawa bertemu dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, membahas kemungkinan titik temu atas tarif otomotif.
Trump diketahui memberlakukan tarif 25% pada mobil Jepang, ditambah dengan tarif sementara 24% secara menyeluruh yang disebutnya sebagai "tarif timbal balik." Ishiba kini berada dalam posisi sulit: membujuk Trump untuk mencabut tarif tersebut tanpa mengorbankan dukungan politik di dalam negeri menjelang pemilu majelis tinggi bulan depan.
Menurut Michael Cucek, profesor ilmu politik dari Temple University di Tokyo, pulang tanpa membawa kesepakatan bisa saja menjadi langkah politik yang justru menguntungkan Ishiba. "Jika hasilnya buruk, hal itu bisa dipandang sebagai keberanian Ishiba menghadapi Trump dan membela negaranya di tengah tekanan," katanya.
Kondisi politik domestik Ishiba memang sedang genting. Setelah kekalahan dalam pemilu majelis rendah pada November lalu, Partai Demokrat Liberal yang ia pimpin kini bergantung pada koalisi untuk tetap memerintah. Kegagalan dalam pemilu mendatang bisa menjatuhkan pemerintahan Ishiba, sekaligus memaksa AS untuk memulai kembali perundingan dengan pemerintahan Jepang yang baru.
"Yang paling penting, Ishiba tidak boleh tunduk pada kesepakatan otomotif yang merugikan," kata Joseph Kraft, analis dari Rorschach Advisory di Tokyo. "Trump mungkin ingin semacam kesepakatan demi pencitraan, tapi saya rasa dia tidak benar-benar fokus pada G7."
Di sisi ekonomi, efek langsung dari kegagalan perundingan memang belum terasa, namun tarif yang terus berlangsung diprediksi akan menekan pertumbuhan Jepang. Analis senior dari Mizuho Bank, Asuka Tatebayashi, mengatakan bahwa ekspor mobil Jepang ke AS pada April menunjukkan tren mengkhawatirkan.
"Volume ekspor dalam dolar turun hampir 5%, padahal jumlah unit naik drastis. Artinya, mereka menjual mobil lebih murah, atau pabrikan yang menanggung biaya tarif. Saya pikir kemungkinan kedua yang terjadi, dan itu tidak bisa bertahan lama," katanya.
Dalam laporan Mizuho Research & Technologies, tarif ini berpotensi memangkas 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang, menambah tekanan ekonomi yang dihadapi Ishiba di tengah krisis politik yang menghimpit.
- otomotif
- Perdana Menteri Jepang
- Negosiasi Kebijakan Tarif Trump
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Direktur CIA Mendadak Terbang ke Moskow, Beri Peringatan Keras Soal Ancaman Negara Baltik
-
Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika
-
Populer di Inggris, Nissan Pixo akan Dihidupkan Lagi sebagai Mobil Listrik untuk Pasar Eropa
-
Abu Sinabung Ngamuk, Bandara Kualanamu Ditutup Total, 21 Penerbangan Lumpuh
-
Pemkab Kapuas Bangun Embung Air Baku untuk Jaga Ketersediaan Air Bersih Warga.
-
Event Akhir Pekan Jakarta 29-30 Agustus 2026: Dari Pameran FLONA Hingga Pertunjukan Balet
-
Coco Gauff Rayakan Sejarah Baru Petenis Kulit Hitam Amerika di US Open
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.