Peran SpaceX dalam Proyek “Golden Dome” Dipertanyakan Usai Perseteruan Elon Musk dan Trump

Jumat, 13 Jun 2025, 15:55 WIB

JAKARTA - Peran penting SpaceX dalam proyek sistem pertahanan rudal baru Amerika Serikat, yang dijuluki “Kubah Emas,” kini dipertanyakan menyusul perseteruan terbuka antara Elon Musk dan Presiden Donald Trump pekan lalu. Menurut tiga sumber yang mengetahui proyek tersebut, ketegangan politik antara keduanya memunculkan kemungkinan SpaceX akan dikesampingkan dari proyek ambisius itu.

Sebelumnya, Gedung Putih telah mempertimbangkan untuk menjadikan SpaceX sebagai mitra utama bersama perusahaan perangkat lunak Palantir dan produsen pesawat nirawak Anduril dalam membangun jaringan satelit sebagai komponen utama proyek tersebut. Pentagon telah mendapat instruksi dari pemerintah untuk memprioritaskan jalur luar angkasa sebagai bagian dari sistem deteksi dan pencegahan serangan rudal. Namun, kini kerangka sistem tersebut sedang ditinjau ulang, dan salah satu opsinya adalah memperkecil peran satelit SpaceX dan fokus pada penguatan sistem pertahanan darat yang sudah ada.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengenai perisai pertahanan rudal Golden Dome di samping Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, AS. — Sumber: Reuters

Gedung Putih dalam pernyataannya menegaskan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen pada proses peninjauan kontrak yang ketat, sementara Pentagon menyatakan belum ada keputusan kontrak baru terkait proyek tersebut. SpaceX, Anduril, dan Palantir tidak memberikan komentar. Jika benar peran SpaceX dikurangi, ini akan menjadi kemunduran pertama Elon Musk dalam urusan bisnis dengan pemerintah AS sejak ia memutus hubungan dengan Trump secara terbuka.

Pengamat industri pertahanan menilai dinamika ini mencerminkan betapa politisnya proyek tersebut. “Fakta bahwa pihak-pihak yang dilibatkan dalam proyek disetujui berdasarkan afiliasi politik menunjukkan bahwa program ini sangat dipolitisasi dan bukan berdasarkan penilaian teknis,” kata Laura Grego, direktur penelitian di Union of Concerned Scientists. Ia menambahkan, proyek ini seharusnya mengutamakan keunggulan teknologi, bukan kedekatan politik.

Pemerintahan Trump sebelumnya menargetkan sistem pertahanan ini harus operasional pada akhir masa jabatan presiden, yakni Januari 2029. Akan tetapi, dengan biaya yang diperkirakan mencapai 175 miliar dolar AS dan kerangka waktu yang ketat, para ahli menilai target tersebut terlalu optimis. Belum adanya keputusan final mengenai arsitektur sistem, atau peran utama perusahaan seperti SpaceX, memperlihatkan ketidakpastian dan perebutan posisi yang intens di antara para kontraktor pertahanan.

Beberapa pihak dalam pengembangan proyek mengatakan ketergesaan peluncuran proyek oleh Trump menciptakan kebingungan. “Sampai saat ini tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa persyaratan teknis proyek ini,” ujar salah seorang sumber. Ia menambahkan, tidak ada koordinasi jelas atau visi yang utuh, sementara banyak perusahaan tampak hanya berlomba meraup keuntungan dari dana yang tersedia.

Gedung Putih menegaskan kembali bahwa semua keputusan dalam proyek ini akan dilakukan dengan prioritas pada “kesepakatan terbaik bagi Amerika” serta pemanfaatan teknologi yang “paling canggih dan inovatif.” Namun, tanpa kejelasan arah, waktu, dan struktur organisasi yang tegas, masa depan keterlibatan SpaceX dalam proyek pertahanan paling ambisius Amerika ini masih tergantung pada keputusan politik dan kalkulasi strategis di tingkat tertinggi pemerintahan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.