Jonathan Wheatley Yakin Audi Bakal Jadi Juara Dunia F1

Kamis, 12 Jun 2025, 08:30 WIB

LONDON- Di tengah gejolak yang melanda Red Bull Racing, Jonathan Wheatley memilih jalan baru. Mantan direktur olahraga tim paling dominan dekade ini resmi meninggalkan Red Bull dan kini menakhodai Sauber, tim yang akan menjelma menjadi tim pabrikan Audi mulai musim 2026.

Meski banyak yang mempertanyakan keputusannya meninggalkan tim dengan 6 gelar konstruktor, 8 gelar pembalap, dan 120 kemenangan balapan, Wheatley bersikukuh: ini adalah momen yang tepat.

Ket. Foto: Jonathan Wheatley — Sumber: AFP

“Saya tidak datang ke sini hanya untuk mengisi grid,” tegasnya. “Saya benar-benar percaya kami akan berada di jalur kemenangan dan meraih gelar juara dunia.”

Wheatley bukan orang baru di paddock. Ia memulai karier sebagai mekanik junior di Benetton 35 tahun lalu, lalu bergabung ke Red Bull dari Renault pada 2006. Ia memainkan peran penting dalam kejayaan Red Bull, termasuk membantu mengamankan gelar pertama Max Verstappen di 2021 lewat komunikasi kontroversial dengan direktur lomba Michael Masi.

Kini, ia pindah ke Sauber, tim yang hanya pernah menang satu kali dalam sejarahnya (GP Kanada 2008 bersama BMW). Tapi Wheatley melihat potensi besar, seiring rencana investasi besar dari Audi dan Qatar Investment Authority (QIA).

"Kami sedang melakukan ekspansi kampus, punya program ambisius dan dukungan penuh dari Audi dan QIA. Saya sangat bersemangat dengan posisi kami saat ini."

Meski performa musim ini masih jauh dari kata meyakinkan—baru naik ke peringkat delapan klasemen setelah Nico Hulkenberg finis kelima di GP Spanyol—Wheatley tetap optimistis. Ia yakin Audi, yang akan turun dengan mesin baru di 2026, memiliki "semua fondasi" untuk membangun tim juara.

Berbeda dari kepindahannya dari Renault ke Red Bull yang penuh pertimbangan, Wheatley menyebut keputusan kali ini sebagai sesuatu yang “sepenuhnya alami.” Ia langsung merasa menyatu dengan tim barunya di Hinwil, Swiss.

“Rasanya seperti tim saya sendiri, padahal saya baru dua bulan di sini. Orang-orang seperti saya di olahraga ini sangat kompetitif. Saya menyerap hal itu di Red Bull, dan kini saya menyerapnya di sini.”

Kepergian Wheatley terjadi saat Red Bull tengah diguncang isu internal. Christian Horner menghadapi penyelidikan (yang kemudian dihentikan), hubungan dengan ayah Verstappen memburuk, dan desainer legendaris Adrian Newey mengumumkan hengkang ke Aston Martin.

Namun Wheatley menegaskan kepindahannya bukan karena gejolak itu, melainkan karena kesempatan masa depan yang lebih menjanjikan.

Dengan latar belakang kesuksesan panjang dan energi baru dari proyek Audi, Wheatley kini membawa keyakinan penuh bahwa suatu hari nanti, nama Audi tidak hanya akan berdiri di paddock Formula 1—tetapi juga di podium juara dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.