Florentino Perez dan Ambisi Baru Real Madrid di Era Xabi Alonso
Kamis, 12 Jun 2025, 16:30 WIBJAKARTA - Florentino Perez kini menatap peluang untuk mencatatkan namanya dalam sejarah dengan cara yang baru. Presiden Real Madrid yang visioner itu tidak hanya memandang ke masa depan, tetapi juga merujuk pada masa lalu yang agung terutama era Santiago Bernabeu, presiden legendaris yang mengantar Madrid menjuarai Piala Eropa pertama pada 1956. Kini, Perez ingin meniru langkah itu dengan membawa Real Madrid menjuarai edisi pertama Piala Dunia Antarklub versi baru di Amerika Serikat.
Namun, untuk meraih itu, Perez menyadari bahwa Real Madrid tak hanya membutuhkan ambisi, tetapi juga perubahan. Perubahan ini mencakup bukan hanya nama pelatih yang akan memimpin tim, tetapi juga filosofi permainan secara keseluruhan. Perez, yang selama ini dikenal memilih stabilitas dan reputasi, kali ini mengambil pendekatan berbeda dengan mendukung proyek jangka panjang.
Pilihan utama Perez adalah Xabi Alonso. Eks pemain Madrid itu merupakan sosok yang telah lama digadang-gadang menjadi suksesor Carlo Ancelotti. Tekanan agar Alonso mengambil alih sebelum turnamen Piala Dunia Antarklub semakin menguat, terlebih atas rekomendasi dari sosok berpengaruh seperti Juni Calafat, kepala pencari bakat Madrid yang dikenal membentuk masa depan skuad lewat perekrutan cermat.
Namun Alonso tidak datang tanpa syarat. Ia meminta jaminan bahwa sejumlah pemain baru akan bergabung pada musim panas. Bagi Alonso, keberhasilan taktik dan filosofi permainannya hanya bisa diterapkan jika ia memiliki pemain yang cocok dengan sistem tersebut. Tantangan terbesar, Madrid hanya memiliki waktu sangat terbatas tiga sesi latihan penuh dengan skuad komplet sebelum tampil di turnamen bersejarah tersebut.
Di tengah transisi ini, Madrid menghadapi pertanyaan fundamental: apakah klub dengan budaya anti-ideologi dapat menerima dan menerapkan pendekatan taktis yang modern? Real Madrid bukanlah klub yang dibangun berdasarkan pemikiran pelatih. Mereka cenderung membiarkan para pemain berbakat berkreasi di lapangan, dengan pelatih berperan sebagai fasilitator, bukan pengarah utama.
Hal ini yang selama ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Carlo Ancelotti sukses besar karena mampu mengakomodasi para pemain bintangnya. Sebelumnya, Zinedine Zidane pun disebut sebagai "pelatih yang hanya bertepuk tangan" meskipun memenangkan tiga gelar Liga Champions. Para pemain seperti Luka Modric dan Toni Kroos dianggap lebih berperan dalam membawa identitas permainan Madrid, ketimbang strategi pelatih.
Namun kini, Xabi Alonso hadir sebagai sosok yang berbeda. Ia bukan hanya manajer dengan ideologi kuat, tetapi juga mantan pemain top yang memiliki legitimasi di ruang ganti. Karier bermainnya yang gemilang, termasuk sebagai jenderal lini tengah di era awal dominasi Madrid di Liga Champions modern, menjadi bekal yang tak dimiliki sembarang pelatih.
Jika Alonso berhasil membawa filosofi modernnya ke Madrid dan meraih gelar di Piala Dunia Antarklub, ia tak hanya akan menandai era baru untuk klub, tetapi juga mengubah cara pandang Madrid terhadap peran pelatih. Di bawah pengawasan Perez, proyek ini berpotensi menjadi tonggak baru dalam sejarah Los Blancos sebuah titik balik yang menggabungkan warisan kejayaan lama dengan ambisi masa depan.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Ensign InfoSecurity dan iCIO Community Gelar Simulasi Krisis Siber Imersif
-
Dari Perangkat hingga Infrastruktur, Lenovo Bangun Fondasi AI Enterprise untuk Organisasi Modern
-
Update Klasemen Sementara Piala Dunia: Inggris dan Kolombia Teratas Puncaki Grup L & K
-
UNAND Kaji Sistem Parak Minangkabau, Solusi Kearifan Lokal Hadapi Perubahan Iklim Global
-
Tumbang dari Filipina dan Malaysia, Skuad MLBB Indonesia Tetap Lolos ke Asian Games 2026! Kok Bisa?
-
Pemkab Situbondo Permudah Izin Investasi Hotel Bintang 4 di Kawasan Pesisir Kendit
-
Jalan Rasuna Said Kini Lebih Asri dan Enak Dipandang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.