Bagaimana Cara Dinasti Qin Menyatukan Tiongkok Kuno?
Kamis, 12 Jun 2025, 07:08 WIBHANYA sedikit dinasti yang berkuasa di Tiongkok yang memiliki dampak budaya atau sejarah seperti Dinasti Qin. Dinasti menjadikan negeri itu berupa kekaisaran yang wilayahnya sangat luas selama lebih dari 2.000 tahun.
Meski Dinasti Qin adalah dinasti pertama namun umum kekuasaannya terpendek dari semua dinasti besar Tiongkok. Namun demikian Qin layak dikenang dengan kedudukan yang sama dengan dinasti besar Tiongkok lainnya seperti Ming, Song, dan Tang.
Masa jabatan Dinasti Qin yang singkat antara 221-206 SM, tidak berarti bahwa asal-usulnya juga singkat. Sebaliknya, asal-usul dari dinasti ini dapat ditelusuri kembali lebih dari 100 tahun sebelum dinasti itu sendiri berdiri.
Banyak dasar untuk pembentukan Qin dapat ditelusuri kembali ke periode sejarah Tiongkok yang dikenal sebagai Periode Negara-negara Berperang. Meskipun era ini berlangsung selama berabad-abad, periode ketika Qin muncul terjadi menjelang akhir Periode Negara-negara Berperang, sehingga menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah Tiongkok.
Sebelum dimulainya era kekaisaran atau pada Periode Negara-negara Berperang, negara ini terbagi dalam tujuh negara yaitu Han, Yan, Zhou, Wei, Chu, Qi, dan Qin. Saat itu negara yang memimpin adalah Zhou, yang memerintah dengan menggunakan bentuk awal pemerintahan dinasti.
Zhou disebut sebagai negara yang unggul, dan Qin sering dianggap kurang berkembang dibandingkan mereka yang tinggal di Zhou. Contoh penting adalah bahwa Zhou menghentikan pengorbanan manusia bertahun-tahun sebelum Qin melakukannya. Itu hampir menjadi titik superioritas moral mengapa Zhou memerintah.
Adipati Xiao adalah penguasa negara Qin dari tahun 361 hingga 338 SM. Selama masa pemerintahannya, sebagian besar persiapan perang dilakukan. Penunjukan penasihat dan sekutu politik dekatnya, Shang Yang (yang berasal dari negara Wei) sebagai kanselir benar-benar menggerakkan roda perang.
Shang Yang adalah salah satu negarawan pertama yang tercatat berbicara secara terbuka tentang Tiongkok yang bersatu. Beberapa negara bagian yang sebelumnya memiliki seperangkat aturan sendiri, yang secara longgar âdisatukanâ bersama di bawah gagasan identitas Tiongkok.
Salah satu gagasan yang dianut Shang Yang adalah perluasan tentara Tiongkok di negara Qin. Umumnya kaum bangsawan mengerahkan tentara untuk pasukan pribadi mereka sendiri, namun ia mengusulkan agar para petani memiliki pilihan untuk mendaftar, sebagai imbalan atas lebih banyak tanah.
Gagasan Shang Yang diterima dengan baik, dan sejumlah besar petani mendaftar, sehingga jumlah tentara Qin meningkat pesat dan karena tanah lebih murah daripada uang, biaya untuk memelihara pasukan seperti itu sangat rendah.
Namun, ungkapan kebiasaan lama sulit dihilangkan muncul dalam pikiran. Setelah kematian Adipati Xiao pada tahun 338 SM, kaum aristokrat yang takut atau tidak nyaman dengan gagasan Shang Yang yang tampaknya radikal tentang reformasi negara, menuduhnya melakukan pengkhianatan. Ia dijatuhi hukuman mati, yang melibatkan hukuman yang sangat menyakitkan dengan dicabik-cabik tubuhnya oleh lima kereta perang.
Namun, benih-benih kekuasaan dinasti Qin itu sudah ditanam di negara Qin. Kebangkitannya dimulai sejak tahun 316 SM dan seterusnya dapat ditelusuri hingga perluasan negara awal ketika negara-negara mikro Ba dan Chu berperang. Kedua negara memohon bantuan Qin dalam bentuk sumber daya dan manusia, tetapi Qin menanggapinya dengan menaklukkan keduanya. Hal ini membuat wilayahnya semakin luas.
Seiring berkembangnya wilayah Qin, demikian pula pengaruh dan kekuatannya. Selama 40 tahun berikutnya, Qin memindahkan ribuan keluarga ke wilayah yang baru ditaklukkan untuk membentenginya dan memanfaatkan lahan pertanian yang menyertainya, sehingga menambah aliran pendapatan lain bagi pemerintahan negara Qin.
Ying Zheng mengambil alih kendali negara Qin saat berusia 13 tahun. Ia sering dianggap sebagai Kaisar pertama Tiongkok klaimnya berasal dari fakta bahwa ia adalah putra Raja Zhuangxiang dari Qin, yang meninggal setelah tiga tahun bertahta pada tahun 247 SM.
Setelah menjadi Kaisar, ia mengambil nama kerajaan Qin Shi Huang Di, yang berarti âkaisar pertama Qin.â Tahun-tahun awalnya mengambil bentuk kebijakan ekspansionis militer, seperti yang ia lihat saat tumbuh di negara Qin saat masih kecil.
Terobosan terbesar terjadi pada tahun 221 SM, ketika Qin berhasil merebut wilayah semua negara Zhou yang tersisa, dan secara resmi mendirikan Dinasti Qin. Tentu saja, menggabungkan tujuh negara bagian dan budaya, lanskap, serta wilayah yang berbeda di bawah satu label Dinasti Qin membutuhkan kerja keras.
Satu Bendera
Bisa dibilang langkah terpenting yang diambil Kaisar Qin adalah merevisi alphabet. Tiongkok segera menstandarisasi penulisan surat di bawah satu aksara dan bahasa, menggantikan semua alfabet dan bahasa negara bagian.
Meskipun ini mungkin tampak seperti kerugian besar bagi sejarah dan khususnya bagi para sejarawan budaya, penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin hampir mustahil dilakukan tanpa langkah drastis seperti itu.
Penting juga untuk menyatukan bahasa sehingga mereka yang berada di berbagai wilayah kekaisaran dapat berkomunikasi satu sama lain. Karena ini mengharuskan sebagian besar orang mempelajari bahasa dan sistem penulisan baru, hal ini secara tidak sengaja menyebabkan terciptanya beberapa akademi (universitas awal) di seluruh kekaisaran, untuk membantu pembelajaran aksara dan bahasa baru.
Penyatuan budaya lain di bawah Qin adalah standardisasi ekonomi yang sekali lagi, merupakan langkah lain yang mutlak diperlukan. Negara-negara yang berbeda menggunakan mata uang yang berbeda, tetapi Qin memilih untuk menggunakan koin perunggu untuk tujuan perdagangan dan perniagaan.
Abjad dan ekonomi merupakan dua aspek terpenting dari penyatuan, dan Qin berhasil menggunakan keduanya dengan benar. Hal ini membantu menyatukan Negara-negara Berperang untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Qin dinilai sangat pantas disebut sebagai dinasti yang menyatukan Tiongkok. Nama Tiongkok atau China bahkan berasal dari ejaan kuno Qin, yang terkadang ditulis sebagai Châin, yang kemudian oleh orang luar Tiongkok menyebutnya dengan Cina (dalam bahasa Sansekerta), Chin atau Sin (Bahasa Persia dan Arab), China (bangsa Eropa).
Mayoritas penduduk di Dinasti Qin terdiri dari petani. Sekitar 90 persen dari populasi, menurut beberapa perkiraan terkini. Sebagian besar orang ini jarang meninggalkan desa atau kota mereka sepanjang hidup mereka, dan meskipun ada sejumlah profesi yang tersedia, Dinasti Qin sebagian besar bercirikan pertanian.
Sama seperti kaisar yang mewarisi jabatannya melalui ayahnya, putra-putra petani akan mewarisi pekerjaan ayah mereka sehingga sebagian besar keluarga bekerja sebagai petani dari generasi ke generasi.
Qin membangun jalan sepanjang 500 mil, yang disebut Qinzhidao (secara harfiah diterjemahkan sebagai âJalan Lurusâ), yang membentang melintasi Pegunungan Ziwu. Jalan ini merupakan kunci dalam pembangunan Tembok Besar China, karena membantu mengangkut material dari tambang ke tembok itu sendiri.
Tembok itu dibangun sebagai pertahanan utara terhadap negara-negara lain, dan tembok-tembok ini akhirnya saling terhubung, membentuk apa yang kemudian menjadi Tembok Besar China, berabad-abad kemudian.
Seorang pria bernama Meng Tian mengawasi proyek konstruksi besar ini, dan diperkirakan lebih dari 300.000 pekerja didatangkan untuk mengerjakan tembok itu pada masa Dinasti Qin saja. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tembok itu secara budaya bagi dinasti itu.
Sepanjang hidupnya, dari dinasti Kaisar Qin gemar membangun monumen-monumen yang mewah. Faktanya, di ibu kotanya yang megah, Xianyang, ia memerintahkan pembangunan replika istana negara musuh yang ditaklukkannya. Hal ini berfungsi sebagai pengingat bahwa suatu wilayah telah berada di kekuasaaannya.
Tidak mengherankan, ia tidak segan-segan mengeluarkan biaya saat merencanakan tujuan akhirnya sendiri. Makamnya juga, dua ribu tahun kemudian, menjadi salah satu Keajaiban Dunia Modern. Ia mengirim 700.000 pekerja untuk membuat makam megah di kaki Pegunungan Lishan. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.