Tak Ada yang Terbuang! Perajin Serang Ubah Sisa Kayu Jadi Mahakarya Mini
Senin, 09 Jun 2025, 22:50 WIBSERANG â Limbah kayu yang tidak dimanfaatkan akan menjadi sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir, menyebabkan polusi dan masalah lingkungan. Dengan memanfaatkannya, masyarakat dapat mengurangi volume sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.
Pengolahan limbah kayu dapat menciptakan lapangan kerja baru, baik di sektor industri kerajinan maupun di sektor pengolahan limbah. Pemanfaatan limbah kayu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penjualan kerajinan atau produk yang terbuat dari limbah kayu.
Perajin asal Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, memanfaatkan limbah kayu untuk diolah menjadi kerajinan miniatur yang memiliki nilai ekonomis.
"Inspirasi pembuatan kerajinan ini dari apa yang saya lihat di lingkungan sekitar. Awalnya saya buat produk furnitur tapi ternyata peluangnya tidak begitu besar dan akhirnya saya coba membuat kerajinan tangan dari limbah kayu ini," ujarnya Suherman (40), di Serang, Senin (9/6).
Ia mengatakan, industri kreatif dengan memanfaatkan limbah kayu ini telah ditekuninya sejak tahun 2016, dengan mengubahnya menjadi kerajinan miniatur seperti Masjid Taj Mahal India, Menara Pagoda China sampai Leuit khas masyarakat adat Badui.
Kemudian, kayu jati Belanda dari sisa olahan pabrik di sekitar Kragilan sampai Cikande ini juga dibuat menjadi menara Masjid Agung Banten, Perahu Pinisi sampai ikon Titik Nol Banten. Semuanya benar-benar dikerjakan secara cermat, detail dan teliti.
Menurut dia, dari sejumlah miniatur kayu yang diproduksi di rumah Cipta Handycraft Innovation Product (CHIP) tersebut pembelinya saat ini sudah sampai negara India hingga Arab Saudi.
"Kita dapat pesanan dari beberapa negara, seperti India, Arab Saudi, kita dapat pembeli itu kemudian barangnya dipasarkan di sana. Dan saat ini kita juga masih proses pembuatan Masjid Nabawi Madinah," ucapnya.
Herman pun mengerahkan sebanyak 15 karyawan yang merupakan warga sekitar untuk membantu mengerjakan sejumlah pesanan miniatur. Satu miniatur dihargai mulai dari Rp200 ribu hingga Rp2 juta disesuaikan dengan tingkat kerumitannya.
"Untuk pemasaran sudah melalui offline dan online, yang online di beberapa market place, dan media sosial," katanya.
Dia mengaku, dalam setiap bulan bisa memproduksi sekitar 200 buah beraneka kerajinan dari limbah kayu, dengan pendapatan dari hasil penjualan berkisar antara Rp20 juta sampai Rp50 juta.
"Untuk pasar termasuk bagus, saat pandemi kemarin kita masih bisa berjalan, karena jual online, dan beberapa dari Kementerian juga ada pesan ke kita untuk suvenir," katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Presiden Prabowo Tetapkan 15 Provinsi Prioritas Pengembangan Ekonomi Kreatif, Sumbar Termasuk
-
Wah, Ribuan Pelajar SMA/SMK dari Keluarga Miskin dapat Perlengkapan Sekolah Gratis dari Pemkot Surabaya
-
Jakarta Gandeng Berlin, Gubernur Pramono Mantapkan Lompatan Besar Menuju Kota Global
-
Menekraf: Ekonomi Kreatif Berbasis Teknologi dan Inovasi Bantu Peradaban Indonesia
-
Pemkab Karawang: Progres Pembangunan "Underpass" Gorowong Capai 51 Persen
-
Wamendagri Beberkan Resep Bangkitkan Pariwisata Lewat Ekonomi Kreatif: Setiap Daerah Harus Punya Karakter Sendiri
-
Kolaborasi Dishut Kalsel dan Alumnus Sekolah Kehutanan dalam Menggencarkan RHL
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.