Pemprov DKI Jakarta Susun Perda Lembaga Adat Betawi, Atur Penggunaan Ondel-Ondel

Senin, 02 Jun 2025, 14:50 WIB

JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Lembaga Adat Betawi yang akan mengatur secara lebih tegas penggunaan ondel-ondel sebagai bagian dari pelestarian budaya Betawi.

“Kebetulan kami sedang menyusun satu Perda tentang Lembaga Adat Betawi. Nah, ini kita akan masukkan supaya dia [ondel-ondel] tampil di tempat yang pantas untuk tampil, intinya seperti itu,” ujar Rano usai memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Balai Kota Jakarta, Senin (2/6).

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta / Paundra Zakirulloh

Gagasan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Wakil Gubernur periode 2017–2022 Ahmad Riza Patria juga menegaskan pentingnya menjaga marwah ondel-ondel agar tidak disalahgunakan, terutama dalam kegiatan mengamen atau meminta-minta. Ia menilai, larangan tersebut justru merupakan bentuk penghormatan terhadap ikon budaya Betawi, bukan pelarangan terhadap budaya itu sendiri.

Saat ini, penggunaan ondel-ondel sebagai simbol budaya telah diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi, yang ditetapkan oleh Pejabat Gubernur Sumarsono. Dalam Pergub itu disebutkan bahwa ondel-ondel memiliki tiga fungsi utama:

  1. Pelengkap upacara adat tradisional masyarakat Betawi.
  2. Dekorasi dalam acara seremonial, termasuk pentas seni, pameran, hingga kegiatan pariwisata yang memenuhi aspek estetika dan keselamatan publik.
  3. Penempatan strategis di ruang publik seperti lobi, pintu masuk, panggung, photo wall, hingga media visual (LED/Videotron), sesuai dengan nilai artistik.

Dengan dasar hukum tersebut, penampilan ondel-ondel secara tidak pantas seperti keliling kampung untuk mengamen dinilai bertentangan dengan fungsi kulturalnya. Oleh karena itu, melalui Perda yang kini tengah disusun, Pemprov DKI Jakarta ingin memperkuat regulasi tersebut agar pelestarian budaya Betawi berjalan lebih terarah dan bermartabat.

Rano menambahkan, ondel-ondel harus ditempatkan sesuai konteks budaya dan estetika, bukan semata-mata dijadikan alat mencari nafkah yang berpotensi merendahkan nilai budayanya. Langkah ini diharapkan dapat mendorong regenerasi dan revitalisasi kebudayaan Betawi sebagai warisan tak benda yang penting bagi identitas Jakarta.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.