Penurunan Ekspor Batu Bara Indonesia Ancam Prospek Pasar Gas Alam Asia

Minggu, 01 Jun 2025, 15:00 WIB

JAKARTA - Para pengembang dan eksportir gas alam kini menghadapi tantangan baru di tengah melemahnya ekspor batu bara termal dari Indonesia. Negara eksportir batu bara terbesar di dunia ini mengalami penurunan signifikan dalam volume ekspor tahunan, dengan angka pengiriman terendah dalam tiga tahun selama Januari hingga Mei 2025.

Untuk merespons penurunan tersebut, pedagang batu bara regional telah menurunkan harga ke titik terendah dalam empat tahun terakhir. Langkah ini berdampak langsung pada biaya produksi listrik berbahan bakar batu bara yang menjadi lebih murah di seluruh Asia, melemahkan daya saing gas alam di pasar yang menjadi target ekspansi utama bagi industri gas.

Ket. Foto: Tongkang batu bara terlihat mengantre untuk ditarik di sepanjang sungai Mahakam di Samarinda, provinsi Kalimantan Timur, Indonesia — Sumber: Reuters

Penurunan ekspor Indonesia ke dua pasar utama yakni Tiongkok dan India, masing-masing sebesar 23% dan 14% memperparah situasi. Selama lima bulan pertama tahun 2025, Indonesia mengekspor sekitar 188 juta metrik ton batu bara, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 2022.

20250601144132_Gambar-WhatsApp-2025-06-01-pukul-14.41.11_2cfc2711.jpg

Pengurangan permintaan dari Tiongkok dan India, yang biasanya menyerap dua pertiga ekspor batu bara Indonesia, menyebabkan pelaku ekspor mencari alternatif pasar lain. Namun, permintaan yang lemah dan melambatnya aktivitas industri turut menurunkan konsumsi di pasar utama lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina.

Untuk bersaing, eksportir dari berbagai negara seperti Australia, Kolombia, Afrika Selatan, dan Rusia juga memangkas harga batu bara mereka. Akibatnya, banyak patokan harga batu bara global kini berada pada titik terendah dalam lebih dari empat tahun.

Karena lebih dari setengah pasokan listrik Asia masih bergantung pada batu bara, harga yang lebih murah justru memperkuat ketergantungan ini. Hal ini secara tidak langsung menekan potensi pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam yang belum sepenuhnya menarik dari segi biaya investasi.

Pembangkit listrik berbahan bakar gas saat ini menyumbang sekitar 10% dari total listrik utilitas Asia, yang berasal dari kapasitas gabungan sebesar 912 GW, menurut data dari Global Energy Monitor. Meski dua pertiga kapasitas pembangkit gas baru dunia saat ini sedang dibangun di Asia, masa depan ekspansi sektor ini tidak sepenuhnya pasti.

Sekitar 61% proyek gas yang masih dalam tahap pra-konstruksi juga berada di Asia, tetapi belum menjamin realisasi karena banyak di antaranya belum memiliki pendanaan maupun lokasi tetap. Khususnya di Tiongkok dan Taiwan, proyek sebesar 53 GW diperkirakan akan menggantikan pembangkit batu bara lama.

Singapura dan Korea Selatan menunjukkan prospek lebih positif dengan 7 GW proyek dalam tahap konstruksi, yang memberikan peluang bagi peningkatan permintaan gas impor. Namun, di negara-negara seperti Indonesia dan Filipina, kendala pendanaan dan penundaan proyek telah mengurangi kepercayaan terhadap ekspansi sektor gas.

Seiring percepatan pembangunan tenaga surya dan sistem penyimpanan baterai, proyek pembangkit gas menghadapi tekanan baru. Di banyak negara, biaya tenaga surya yang terus menurun mempercepat adopsi energi bersih, sekaligus memperlemah daya saing gas alam sebagai alternatif transisi.

Bagi eksportir gas dan LNG, tantangan ini memperlambat pertumbuhan volume ekspor di masa depan. Penurunan harga jangka pendek untuk LNG di pasar utama turut mencerminkan ketidakpastian ini, apalagi dengan harga batu bara yang tetap rendah dalam waktu dekat.

Ketika batu bara tetap dominan dan murah, ekspektasi untuk substitusi gas alam dalam sistem energi Asia menjadi semakin sulit diwujudkan. Bagi banyak pelaku industri gas, ini bisa menjadi momen kritis untuk mengevaluasi kembali strategi pasar mereka di kawasan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.