Indonesia Akan Hentikan Impor BBM dari Singapura, Sasar Pasokan dari Timur Tengah dan AS
Senin, 26 Mei 2025, 15:40 WIBJAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa Indonesia akan segera menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Energi dan Mineral 2025 yang digelar di Jakarta pada Senin (26/5). Rencana tersebut akan direalisasikan dalam waktu dekat, dengan kemungkinan pelaksanaan pada Juni atau Juli.
âJuli tapi belum bisa pastikan. Saya tidak mau sebut bulannya, tapi sebentar lagi,â ujar Bahlil ketika ditanya mengenai waktu pasti penghentian impor dari Singapura.
Ia menekankan bahwa Indonesia tidak bisa terus bergantung pada negara yang tidak memiliki produksi minyak mentah sendiri.
Dalam forum tersebut, Bahlil mengkritik keras ketergantungan Indonesia pada bahan bakar dari Singapura. Ia menyebut bahwa kondisi ini bisa menjadi bahan tertawaan karena Singapura sendiri hanya menjadi perantara, bukan produsen energi. Lebih dari separuh impor BBM Indonesia diketahui berasal dari negara tersebut.
âKita mengimpor BBM dari negara yang bahkan tidak memproduksinya. Ini lucu. Harganya bahkan sama dengan BBM yang kita beli dari Timur Tengah. Mereka [Timur Tengah dan Singapura] akan menertawakan kita,â kata Bahlil kepada para peserta forum.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Singapura merupakan pemasok BBM terbesar bagi Indonesia selama periode 2017 hingga 2022. Pada tahun 2022 saja, sekitar 10,9 juta ton minyak mentah dan produk turunan dari Singapura masuk ke Indonesia dengan nilai mencapai $10,4 miliar. Angka ini melonjak pada tahun 2024 menjadi $21,5 miliar, menurut laporan dari Kementerian Perdagangan.
Sebagai bagian dari strategi diversifikasi, Indonesia kini mempertimbangkan untuk mengalihkan impor ke Timur Tengah atau sumber lain yang lebih efisien. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan, tetapi juga menekan biaya dan meningkatkan keamanan energi nasional.
Di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat, pemerintah juga berencana meningkatkan impor BBM dari AS. Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif bagi Presiden AS Donald Trump untuk mempertimbangkan kembali tarif timbal balik yang direncanakan. Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif sebesar 32 persen terhadap barang-barang asal Indonesia mulai bulan Juli 2025.
Bahlil menegaskan bahwa perusahaan energi pelat merah, PT Pertamina, tidak memiliki alasan untuk menolak rencana peningkatan impor dari Amerika Serikat. Pemerintah berharap strategi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi diplomatik Indonesia dalam menghadapi kebijakan perdagangan global yang semakin proteksionis.
Berita Terkait:
-
Atasi Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemkab Serang Siapkan Festival Pulihkan Okupansi Hotel di Anyer dan Cinangka
-
Pascagempa Magnitudo 6,5 di Kepulauan Seribu, Pemprov DKI Imbau Warga Tenang, Jangan Panik, Kondisi Aman
-
Pemkab Temanggung Berkomitmen untuk Bangun Sekolah Rakyat di Karanggedong
-
Menaker: Mahasiswa Perlu Seimbangkan Keahlian Teknis dan Kemampuan Komunikasi.
-
Menkomdigi Minta Masyarakat Awasi Akurasi Data Digitalisasi Bansos
-
Polisi Bekuk Empat Tersangka Peredaran Obat Daftar G di Jakarta Pusat
-
Dari Hobi Tulis Diary, Tiga Sutradara Perempuan Ini Sukses Guncang Bioskop Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.