Perubahan Iklim Ganggu Ketahanan Pangan Dunia Lewat Ancaman Kekeringan

Kamis, 22 Mei 2025, 01:00 WIB

Berlin - Studi oleh Universitas Hamburg yang dipublikasikan pada Selasa (20/5), menyebutkan, pemanasan global secara signifikan meningkatkan risiko terdampak cuaca panas dan kekeringan ekstrem secara bersamaan di kawasan-kawasan utama penghasil bijian-bijian.  

Seperti dikutip dari Antara, tim peneliti tersebut menganalisis berbagai simulasi iklim dan menemukan bahwa kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius secara signifikan meningkatkan frekuensi peristiwa semacam itu di kawasan-kawasan utama penghasil jagung, dibandingkan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius.

Ket. Foto: Seorang perempuan membawa jerigen air di Somali. Warga Somalia menghadapi kekeringan ekstrem dan kerawanan pangan. — Sumber: Xinhua/Luqman Yussuf Hassan

Di Asia Timur, kemungkinan terjadinya cuaca panas dan kekeringan ekstrem meningkat tiga kali lipat, sementara di Asia Selatan, kemungkinan itu meningkat dua kali lipat.

"Pemodelan kami menunjukkan bahwa jika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius, empat atau lebih kawasan utama penghasil jagung di dunia bisa mengalami cuaca panas dan kekeringan secara bersamaan setiap 14 tahun, yang berpotensi menimbulkan dampak sangat buruk bagi manusia maupun alam," imbuh Dietz.

Hingga saat ini, peristiwa ekstrem yang terjadi secara bersamaan semacam itu dianggap sangat kecil kemungkinannya.


Peristiwa-peristiwa kekeringan dan panas ekstrem juga akan terjadi secara bersamaan. "Di Eropa Tengah, Asia Timur, dan Amerika Utara Bagian Tengah, periode kekeringan dan suhu tinggi akan makin sering terjadi secara bersamaan di masa mendatang," ungkap fisikawan iklim Victoria Dietz, yang merupakan peneliti utama studi tersebut.

"Dalam keadaan paling baik, perdagangan internasional dapat sedikit meringankan kegagalan panen lokal. Namun, perubahan iklim juga melemahkan penyangga pasar. Jika banyak atau bahkan semua kawasan utama penghasil biji-bijian mengalami cuaca ekstrem secara bersamaan, ketersediaan jagung secara global akan jauh menurun," tutur Leonard Borchert, salah satu peneliti dalam studi tersebut.


"Penelitian kami menunjukkan kebutuhan mendesak untuk membatasi pemanasan global agar di bawah 2 derajat Celsius sehingga bisa mengurangi risiko gagal panen ekstrem. Di saat yang sama, diperlukan adaptasi lokal dan pengembangan varietas tanaman yang lebih tangguh untuk bersiap menghadapi cuaca panas dan kekeringan," tambah Borchert.

Studi ini menyoroti bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim hanya akan berhasil jika dilakukan secara berkelanjutan dan adil secara sosial. Langkah-langkah adaptasi yang dirancang dengan cermat dan melibatkan partisipasi publik dianggap krusial untuk menghadapi tantangan ini.

Kurang Komitmen

Profesor Beate Ratter, salah satu penulis utama studi tersebut, menekankan bahwa kegagalan dalam mengadopsi strategi adaptasi yang berkelanjutan akan memperburuk dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian. Hal ini dapat menyebabkan penurunan produksi pangan dan meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap kelaparan.

Laporan ini juga mencatat bahwa hingga saat ini, upaya global untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2050 masih belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kurangnya komitmen dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan tren konsumsi yang tidak berkelanjutan menjadi hambatan utama dalam mitigasi perubahan iklim. 

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.