- Home
-
- Luar Negeri
-
- Studi: Perubahan Iklim Per...
Studi: Perubahan Iklim Perparah Risiko Kekeringan Global
Rabu, 21 Mei 2025, 17:16 WIBBERLIN - Pemanasan global secara signifikan meningkatkan risiko terdampak cuaca panas dan kekeringan ekstrem secara bersamaan di kawasan-kawasan utama penghasil bijian-bijian, ungkap sebuah studi yang dipublikasikan pada Selasa (20/5) oleh Universitas Hamburg.
Dalam studi itu, tim peneliti menganalisis berbagai simulasi iklim dan menemukan bahwa kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius secara signifikan meningkatkan frekuensi peristiwa semacam itu di kawasan-kawasan utama penghasil jagung, dibandingkan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius.
Di Asia Timur, kemungkinan terjadinya cuaca panas dan kekeringan ekstrem meningkat tiga kali lipat, sementara di Asia Selatan, kemungkinan itu meningkat dua kali lipat.
"Pemodelan kami menunjukkan bahwa jika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius, empat atau lebih kawasan utama penghasil jagung di dunia bisa mengalami cuaca panas dan kekeringan secara bersamaan setiap 14 tahun, yang berpotensi menimbulkan dampak sangat buruk bagi manusia maupun alam," imbuh Dietz.
Hingga saat ini, peristiwa ekstrem yang terjadi secara bersamaan semacam itu dianggap sangat kecil kemungkinannya.
Peristiwa-peristiwa kekeringan dan panas ekstrem juga akan terjadi secara bersamaan. "Di Eropa Tengah, Asia Timur, dan Amerika Utara Bagian Tengah, periode kekeringan dan suhu tinggi akan makin sering terjadi secara bersamaan di masa mendatang," ungkap fisikawan iklim Victoria Dietz, yang merupakan peneliti utama studi tersebut.
"Dalam keadaan paling baik, perdagangan internasional dapat sedikit meringankan kegagalan panen lokal. Namun, perubahan iklim juga melemahkan penyangga pasar. Jika banyak atau bahkan semua kawasan utama penghasil biji-bijian mengalami cuaca ekstrem secara bersamaan, ketersediaan jagung secara global akan jauh menurun," tutur Leonard Borchert, salah satu peneliti dalam studi tersebut.
"Penelitian kami menunjukkan kebutuhan mendesak untuk membatasi pemanasan global agar di bawah 2 derajat Celsius sehingga bisa mengurangi risiko gagal panen ekstrem. Di saat yang sama, diperlukan adaptasi lokal dan pengembangan varietas tanaman yang lebih tangguh untuk bersiap menghadapi cuaca panas dan kekeringan," tambah Borchert. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Jaga Stabilitas Harga: Bapanas Sebut Stok Beras Aman hingga April 2027
-
600 Ha Sawah di Nagan Raya Aceh Alami Kekeringan Parah
-
Ancaman Kekeringan Mengintai, DKPP Kota Madiun Desak Petani Lakukan Siasat Ini
-
Dua Oknum Polisi di NTT Diduga Terlibat Penyalahgunaan BBM Bersubsidi
-
Rekomendasi Acara Akhir Pekan yang Bisa Dinikmati di Jakarta, Ada Jazz Goes to Campus di TIM!
-
Berburu Yuan di Negeri Panda: Panda Bond Jadi Andalan, Menkeu Siapkan Jurus Baru Tambal Fiskal
-
KAI Commuter Tambah 30 Kereta Baru untuk Layani 86,8 Juta Pengguna
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.