Sunyi Nan Magis di Danau Sagea

Jumat, 03 Jul 2026, 07:18 WIB

JIKA mencari destinasi wisata yang mengombinasikan keindahan visual yang magis dengan keajaiban sains yang memukau di Halmahera, Danau Sagea di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, adalah jawabannya. 

Letaknya tidak jauh dari Goa Bokimoruru atau hanya 1,4 km saja. Berada di kawasan Desa Sagea, Weda Utara, danau ini menawarkan pemandangan air berwarna hijau toska yang kontras dengan tebing-tebing batu kapur (karst) yang menjulang tinggi di sekelilingnya.

Ket. Foto: Sejumlah pengunjung menaiki wahana ‘paddleboard’ saat berwisata di objek wisata Kars Goa Boki Maruru, Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. — Sumber: ANTARA/Andri Saputra

Namun, Danau Sagea bukanlah danau biasa. Di balik ketenangannya, terdapat sistem hidrologi purba dan struktur geologi yang menjadikannya salah satu warisan bumi paling berharga di Indonesia bagian timur.

Bagi para pelancong, Danau Sagea (atau yang sering disebut warga lokal sebagai Sungai Sagea karena bentuknya yang menyerupai aliran sungai besar yang tenang) adalah tempat pelarian yang sempurna dari hiruk-pikuk perkotaan.

Menyusuri Danau dengan Perahu adalah aktivitas favorit wisatawan di sini. Mereka menyewa perahu tradisional (ketinting) milik warga lokal untuk membawa membelah air danau yang berwarna hijau toska pekat, dikelilingi oleh dinding tebing batu kapur vertikal yang ditumbuhi vegetasi tropis yang hijau royo-royo.

Danau Sagea dikenal sebagai gerbang menuju Goa Bokimoruru. Menelusuri Danau ini ke arah hulu akan membawa langsung ke mulut goa yang megah itu dan dikenal sebagai salah satu goa karst terpanjang di Indonesia. 

Pertemuan antara ketenangan danau dan kemegahan mulut goa ini menciptakan pemandangan yang sangat dramatis dan fotogenik. Secara visual, Danau Sagea bertindak sebagai “halaman depan” yang megah sebelum wisatawan memasuki “istana batu” Bokimoruru.

Sagea manawarkan suasana sunyi yang magis. Lokasinya yang dikelilingi tebing curam, suara alam seperti kicauan burung endemik Maluku dan gemercik air terdengar sangat jelas, memberikan efek relaksasi yang luar biasa bagi siapa saja yang berkunjung.

Terbentuk Secara Bersama

Keindahan Danau Sagea dan Goa Bokimoruru tidak terjadi secara terpisah. Secara geologis, keduanya adalah satu kesatuan sistem hidrologi karst yang tidak bisa dipisahkan. Danau Sagea adalah manifestasi permukaan (eksterior), sedangkan Goa Bokimoruru adalah sistem bawah tanahnya (interior).

Goa Bokimoruru dan Danau Sagea sebenarnya merupakan satu kesatuan. Air hujan yang turun di kawasan pegunungan karst meresap ke dalam celah-celah batu kapur. Di bawah permukaan tanah, air tersebut berkumpul membentuk sungai bawah tanah yang mengalir selama bertahun-tahun sambil mengikis batu kapur dan memperbesar lorong-lorong goa.

Ketika sungai bawah tanah itu keluar dari mulut Goa Bokimoruru, aliran airnya melambat dan melebar hingga membentuk Danau Sagea. Dengan kata lain, Danau Sagea mendapat pasokan air langsung dari sistem sungai bawah tanah di Goa Bokimoruru. Tanpa goa tersebut, danau ini tidak akan terbentuk.

Keindahan Danau Sagea juga berkaitan langsung dengan perjalanan air di dalam Goa Bokimoruru. Saat mengalir melalui batu kapur, air melarutkan sedikit demi sedikit mineral kalsium karbonat. Kandungan mineral inilah yang membuat air memantulkan cahaya matahari sehingga tampak berwarna hijau toska atau biru kehijauan.

Selain itu, batuan kapur di dalam goa bekerja seperti penyaring alami. Sebelum muncul ke permukaan, air telah melewati banyak celah dan lorong di bawah tanah sehingga sebagian besar lumpur dan kotoran tertahan. Itulah sebabnya air Danau Sagea terkenal sangat jernih, terutama saat musim kemarau atau ketika curah hujan tidak terlalu tinggi.

Baik Goa Bokimoruru maupun Danau Sagea terbentuk melalui proses geologi yang sama. Jutaan tahun lalu, kawasan ini merupakan dasar laut yang kemudian terangkat akibat pergerakan lempeng tektonik. Proses tersebut membentuk pegunungan batu kapur atau kawasan karst.

Pergerakan lempeng juga menciptakan retakan-retakan pada batu kapur. Air hujan kemudian masuk melalui retakan itu dan selama jutaan tahun melarutkan batu sedikit demi sedikit hingga terbentuk lorong-lorong Goa Bokimoruru. Air yang mengalir di dalam lorong tersebut akhirnya muncul kembali ke permukaan dan membentuk Danau Sagea. hay

  • Danau Sagea

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.