600 Ha Sawah di Nagan Raya Aceh Alami Kekeringan Parah
Minggu, 07 Jun 2026, 16:36 WIBNAGAN RAYA -- Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh mencatat hingga saat ini sekitar 600 hektare lebih lahan sawah milik petani di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue, mengalami kekeringan akibat kemarau.
"Kekeringan yang terjadi di sejumlah desa di Nagan Raya akibat penurunan debit air yang signifikan pada saluran irigasi serta minim nya curah hujan bagi kawasan tadah hujan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Nagan Raya, Marzuki kepada ANTARA, Sabtu.
Ada pun sebaran sawah yang saat ini mengalami kekeringan di Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya, Aceh tersebar di 11 desa/gampong diantaranya Desa Ujong Pasi (105 Ha), Alue Ie Mameh (80,25 Ha), Simpang Peut (76,5 Ha), Blang Muko (73 Ha), Blang Bintang (51,2 Ha).
Kemudian Desa Ujong Patihah (48 Ha), Cot Kumbang (45 Ha), Blang Baro (40 Ha), Kuta Makmue (35 Ha - tadah hujan), serta Ujong Sikuneng (29,5 Ha) dan Pulo Ie (15,75 Ha).
Kekeringan juga terjadi di Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, Aceh meliputi Desa Seumambek dengan luas lahan kekeringan mencapai 30,34 Ha, serta Desa Macah dengan luasan mencapai 68,38 Ha.
Marzuki mengatakan kedua desa tersebut termasuk ke dalam kategori lahan sawah tadah hujan, sehingga sangat rentan terhadap musim kemarau karena tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai.
Ia menjelaskan, kondisi ini menyebabkan tanaman padi milik warga mulai menunjukkan gejala layu, pertumbuhan terhambat, hingga berpotensi mengalami penurunan produksi secara drastis jika tidak segera ditangani.
â"Saluran irigasi saat ini mengalami penurunan debit air yang cukup parah sehingga kebutuhan air tanaman padi tidak terpenuhi. Kami terus memantau pergerakan dampaknya di lapangan agar bisa segera diambil tindakan penyelamatan," kata Marzuki.
Sebagai solusi mengatasi persoalan kekeringan ini, Distannak Kabupaten Nagan Raya telah melakukan sejumlah langkah diantaranya melakukan pengaturan giliran air pada wilayah pemanfaatan irigasi yang persediaan airnya terbatas.
Kemudian melakukan gotong-royong bersama masyarakat untuk membersihkan endapan atau hambatan di saluran irigasi, termasuk sudah mengusulkan bantuan pompa air serta pencarian sumber air alternatif (sumur bor dangkal).
âSelain itu, pemerintah daerah juga melakukan optimalisasi pintu air dan pengecekan sepanjang jaringan irigasi untuk mencegah kebocoran air, serta melakukan pendataan secara berkala terhadap luas lahan yang terdampak.
âPemerintah daerah berharap dengan adanya sinergi yang kuat antara petugas penyuluh lapangan (PPL), kelompok tani, dan instansi terkait, ancaman gagal panen massal di Kabupaten Nagan Raya dapat diminimalisasi dengan baik, demikian Marzuki.
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
-
RUPSLB BTN Tetapkan Lima Direksi Baru, Regenerasi Didorong Percepat Transformasi dan Strategi Beyond Mortgage
-
Pemkot: Capaian CKG dan Bulan Imunisasi Anak Sekolah di Kota Tangerang Sentuh 48 Persen
-
Kuliner Khas Madura: Nasi Serpang Bangkalan, Apa Bedanya dengan Nasi Campur?
-
Cuaca Kamis Berubah-ubah! BMKG Sebut Mayoritas Kota Besar Berawan dan Hujan Ringan serta Hujan Lebat
-
Sambut HUT ke-81 TNI AL, Pantai Kenjeran Dibersihkan untuk Dorong Wisata Lokal
-
KPK Duga Anggota DPRD Jateng Jadi Perantara Pemerasan Bupati Pemalang.
-
Baku Tembak Dua Badan Intelijen Ukraina: Tiga Luka, Zelenskyy Murka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.