Lebak Makin Produktif! Panen Empat Komoditas Palawija Melesat

Minggu, 18 Mei 2025, 20:48 WIB

LEBAK - Produksi palawija di Lebak Banten sangat penting dalam mendukung swasembada pangan. Palawija seperti jagung, singkong, dan ubi jalar, memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pangan alternatif dan sumber pendapatan ekonomi petani. 

Selain itu, pengembangan palawija juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Ket. Foto: Produksi palawija singkong Kabupaten Lebak, Banten dipasok ke luar daerah dengan harga Rp3.000 per kilogram. — Sumber: ANTARA/Mansur

Produksi empat komoditas pertanian palawija di Kabupaten Lebak, Banten periode Januari - April 2025 mencapai 2.887 ton guna mendukung program swasembada pangan dan pendapatan ekonomi keluarga petani di daerah itu.

"Kita minta petani terus meningkatkan produksi pertanian palawija itu," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Minggu (18/5).

Produksi empat komoditas pertanian palawija di Lebak dari Januari sampai April 2025 sebanyak 2.887 ton itu terdiri dari jagung 1.563 ton, kacang tanah 147 ton, singkong 932 ton dan ubi jalar 245 ton dari luas panen 609 hektare.

Menurut dia, para petani dalam mengembangkan pertanian palawija tersebut di lahan-lahan darat dan masih menjadi usaha sampingan, sebab kebanyakan andalan ekonomi petani di sini masih menggeluti usaha pertanian padi.

Namun pihaknya kini minta petani agar meningkatkan produksi empat komoditas palawija, karena permintaan pasar cukup tinggi.

"Kami menargetkan produksi empat komoditas palawija tahun 2025 itu sebanyak 40 ribu ton, sehingga dapat menggulirkan perputaran uang miliaran rupiah per tahun," katanya.

Menurut dia, keunggulan pertanian palawija itu sangat mudah dibandingkan pertanian padi, sebab tidak banyak perawatan.

Disamping itu juga pertanian palawija tidak mudah terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tidak banyak membutuhkan pupuk kimia.

Pertanian palawija cukup menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak maupun limbah sampah organik yang sudah diproses fermentasi atau pengeposan.

Pemerintah daerah juga memfasilitasi petani yang mengembangkan pertanian komoditas palawija bisa memanfaatkan lahan milik BUMN, seperti Perkebunan Nusantara dan Perhutani dengan sistem sewa.

"Kami berharap ke depannya produksi pertanian palawija itu meningkat hingga menjadi andalan ekonomi petani," kata Deni.

Sementara itu, sejumlah petani di Kecamatan Maja Kabupaten Lebak mengaku bahwa mereka merasa terbantu ekonomi keluarga dari hasil pertanian komoditas singkong.

Mereka petani di daerah itu umumnya menyewa lahan milik pengembang developer perumahan yang belum dimanfaatkan perusahaan.

"Kami bisa panen singkong mencapai 30 ton per hektare dengan harga Rp 2.000 per kilogram sehingga bisa menghasilkan pendapatan Rp60 juta selama 10 bulan," kata Oman, seorang petani Maja Kabupaten Lebak.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.