Indonesia Beberkan Perjuangan Hak Anak di Forum PBB: Apa Saja yang Dibahas?
Sabtu, 17 Mei 2025, 10:30 WIBJENEWA, SWISS - Indonesia baru saja menyampaikan laporan mengenai kemajuan dan tantangan dalam pemenuhan hak-hak anak di hadapan Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dialog konstruktif yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 14-15 Mei lalu ini menjadi wadah bagi pemerintah RI untuk menunjukkan komitmennya dalam melindungi generasi penerus bangsa sesuai dengan Konvensi Hak Anak.
Kuasa Usaha Ad Interim Perutusan Tetap RI (PTRI) di Jenewa, Duta Besar Achsanul Habib, menegaskan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini adalah wujud nyata dari keseriusan negara dalam menjalankan amanat Konvensi Hak Anak. Pertemuan ini merupakan bagian dari peninjauan rutin PBB terhadap negara-negara yang telah meratifikasi konvensi tersebut.
Duta Besar Achsanul Habib pun menambahkan bahwa Indonesia akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak terkait demi menciptakan lingkungan yang lebih baik dan aman bagi jutaan anak Indonesia. Komite Hak Anak PBB sendiri mengapresiasi komitmen dan upaya Indonesia dalam satu dekade terakhir, terutama dalam hal legislasi dan pencatatan kelahiran. Meski demikian, tantangan dan upaya perbaikan untuk memajukan hak anak di Indonesia juga menjadi catatan penting dalam dialog tersebut. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak sejak tahun 1990 dan secara berkala menyampaikan laporannya kepada PBB.
Lantas, hak-hak anak apa saja yang menjadi fokus pembahasan dan diperjuangkan Indonesia dalam dialog tersebut? Beberapa topik utama yang menjadi perhatian Komite Hak Anak PBB dan dijabarkan oleh delegasi Indonesia meliputi:
- Partisipasi Anak dalam Kebijakan: Bagaimana suara dan pandangan anak-anak dilibatkan dalam perumusan kebijakan yang berdampak pada kehidupan mereka.
- Prioritas Kebijakan Anak dalam Asta Cita: Penjelasan mengenai bagaimana isu anak menjadi prioritas dalam agenda pembangunan nasional Asta Cita.
- Program Makan Bergizi Gratis: Detail mengenai implementasi dan dampak yang diharapkan dari program strategis ini terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.
- Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak: Upaya-upaya konkret yang dilakukan Indonesia untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap anak serta mekanisme penanganan bagi korban.
- Akses Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Langkah-langkah pemerintah dalam memastikan seluruh anak di Indonesia memiliki akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas dan layanan kesehatan yang memadai.
- Hak-Hak Anak Masyarakat Adat: Perhatian khusus terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak yang berasal dari masyarakat adat dengan mempertimbangkan kekhasan budaya mereka.
Selain itu, dialog juga menyentuh aspek perencanaan, pendanaan, implementasi kebijakan terkait anak, serta pentingnya pengumpulan data statistik yang akurat dan komprehensif.
Dr. Retno Listyarti, seorang pemerhati pendidikan dan hak anak, memberikan tanggapannya terkait fokus dialog ini. "Sangat penting bahwa partisipasi anak dalam perumusan kebijakan menjadi salah satu poin utama. Anak-anak memiliki perspektif unik yang seringkali terlewatkan. Keterlibatan mereka akan memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi mereka," ujarnya saat dihubungi Koran Jakarta.
Lebih lanjut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dian Sasmita, juga menyoroti pentingnya program Makan Bergizi Gratis dan upaya penanganan kekerasan. "Program makan bergizi gratis memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak Indonesia. Sementara itu, penanganan kekerasan terhadap anak harus menjadi prioritas utama. Kita perlu memastikan mekanisme pencegahan dan penindakan berjalan efektif," tegasnya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Yuniar Dwi Setiawati
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.