Menlu AS Rubio Tak Berharap Banyak dari Perundingan Russia-Ukraina

Jumat, 16 Mei 2025, 08:58 WIB

ISTANBUL - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Kamis (15/5) mengatakan, ia memiliki sedikit harapan bahwa perundingan Russia-Ukraina di Istanbul akan menghasilkan terobosan perdamaian setelah kedua belah pihak saling menghina menjelang negosiasi.

Presiden Russia Vladimir Putin memutuskan untuk tidak pergi ke Istanbul dan pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky mengirim menteri pertahanan negara itu tetapi tidak jelas pembicaraan seperti apa yang akan diadakan antara kedua rival yang telah berperang selama lebih dari tiga tahun.

Ket. Foto: Menlu AS Marco Rubio — Sumber: The Hill

Pejabat Turki mengatakan "pembicaraan trilateral antara Russia, Ukraina dan Turki ada dalam agenda" untuk hari Jumat dan akan ada pembicaraan antara pejabat AS, Ukraina dan Turki. 

Namun Rubio mengatakan kepada wartawan di Turki "Saya ingin jujur... kami tidak memiliki harapan besar terhadap apa yang akan terjadi besok".

Presiden AS Donald Trump juga tampaknya mengakui bahwa kemajuan dalam mengakhiri perang tidak mungkin terjadi sampai ia dapat bertemu Putin.

Zelensky mengatakan bahwa Russia "tidak serius" dalam mengakhiri perang.

"Sayangnya, mereka tidak menanggapi negosiasi yang sebenarnya dengan serius," kata Zelensky kepada wartawan setelah bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Demi menghormati" Erdogan dan Trump, Zelensky mengatakan ia akan mengirim delegasi yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rusten Umerov ke perundingan Istanbul.

Pihak Russia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, penasihat Putin yang memimpin perundingan yang gagal pada tahun 2022 tepat setelah Russia melancarkan invasinya.

Delegasi Russia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, kata juru bicaranya, setelah menunggu lama pihak Ukraina di tempat pembicaraan di Istanbul.  

Sumber Kementerian Luar Negeri Turki mengindikasikan pertemuan tersebut diharapkan akan berlangsung pada hari Jumat. "Besok akan ada lebih banyak pembicaraan dalam berbagai format," kata sumber tersebut. 

Dalam pengarahan yang disiarkan televisi untuk media Russia di Istanbul, Medinsky mengatakan: "Besok pagi, tepatnya mulai pukul 10 pagi, kami akan menunggu pihak Ukraina, yang harus hadir dalam pertemuan tersebut." 

Delegasi "Bodoh"

Puluhan ribu orang telah terbunuh sejak Moskow menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan Rusisa kini menduduki sekitar seperlima wilayah Ukraina.

Tidak ada perundingan damai secara langsung sejak minggu-minggu pertama perang dan posisi kedua pihak tampaknya makin menjauh sejak saat itu.

Sebelum pembicaraan, Juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova menyebut Zelensky sebagai "badut" dan "pecundang". 

Menteri Luar Negeri Russia Sergei Lavrov menyebut Zelensky "menyedihkan" karena mencoba membujuk Putin untuk hadir secara langsung.

Namun Zelensky bersikeras: "Saya percaya bahwa pemimpin Kremlin harus menunjukkan kepemimpinannya. Jika dia siap untuk berunding, maka kita harus bertemu.

"Gencatan senjata adalah prioritas," imbuh Zelensky. "Meskipun saya masih yakin bahwa Russia terus menganggap remeh pertemuan-pertemuan ini dan tidak ingin mengakhiri perang." 

Trump mengatakan hanya pertemuan antara dirinya dan Putin yang dapat menghasilkan kemajuan berarti.

"Saya tidak percaya apa pun akan terjadi, suka atau tidak, sampai kami bertemu," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.

Zelensky dijadwalkan menghadiri pertemuan para pemimpin Eropa di ibu kota Albania pada hari Jumat. Rubio, yang dijadwalkan berada di Istanbul pada hari Jumat, kembali memperingatkan dalam pertemuan NATO di Antalya bahwa Washington semakin "tidak sabar" atas upaya untuk mengakhiri konflik.

Kompromi

Putin telah membuat seruan mengejutkan untuk negosiasi langsung setelah Kyiv dan para pemimpin Eropa menekannya untuk menyetujui gencatan senjata penuh dan tanpa syarat selama 30 hari.

Penunjukan Medinsky sebagai negosiator utama Kremlin menunjukkan bahwa Moskow tidak berencana untuk membuat konsesi. Meskipun merupakan pembantu garis keras Putin, ia bukanlah pengambil keputusan utama.

Di luar konsulat Russia di Istanbul, Medinsky mengatakan kepada wartawan bahwa Russia melihat pembicaraan tersebut sebagai kelanjutan dari negosiasi 2022 yang gagal dan dia siap untuk "kemungkinan kompromi".

"Delegasi berkomitmen pada pendekatan yang konstruktif, untuk menemukan kemungkinan solusi dan titik kontak. Tujuan negosiasi langsung dengan pihak Ukraina adalah untuk akhirnya membangun perdamaian jangka panjang dengan menghilangkan akar penyebab konflik," katanya.

Moskow ingin Kyiv membuat konsesi teritorial besar-besaran, menyerahkan lebih banyak tanah daripada yang telah hilang di medan perang, dan juga beberapa kali berupaya menyingkirkan Zelensky, menjanjikan kenetralan militer, dan membatasi tentara Ukraina.

Kyiv dan Barat menolak seruan tersebut tetapi Zelensky telah mengakui bahwa Ukraina mungkin hanya mendapatkan kembali sebagian wilayah melalui cara diplomatik.

Ia menginginkan gencatan senjata segera selama 30 hari, sesuatu yang berulang kali ditolak Putin.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.