Waspada! The Fed Diprediksi Bakal Pangkas Suku Bunga Besar-Besaran
Kamis, 15 Mei 2025, 00:00 WIBJAKARTA â Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) berpeluang memangkas suku bunga acuan hingga 100 basis poin (bps) tahun ini. Sebab, prospek perekonomian di negara adidaya tersebut dibayangi pelambatan hingga akhir tahun ini sebagai imbas dari penerapan kebijakan tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan suku bunga acuan bank The Fed berpotensi dipangkas sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps) pada tahun ini. Dengan proyeksi ini, maka suku bunga AS atau Fed Funds Rate (FFR) akan berada pada kisaran 3,25-3,5 persen pada akhir 2025 dari posisi saat ini yang berada pada kisaran 4,25-4,5 persen.
âKalau kita mencermati data inflasi AS terakhir dan data potensi pelemahan tenaga kerja AS ke depannya, memang akan ada potensi ruang penurunan suku bunga di tahun ini. Kami melihat potensi penurunannya sekitar 75 hingga 100 bps di tahun ini,â kata Josua dalam acara PIER Q1 2025 Economic Review di Jakarta, Rabu (14/5).
Merujuk pada pernyataan Gubenur The Fed, Jerome Powell dan pejabat lainnya, Josua mengingatkan ruang penurunan FFR masih terbuka meskipun bank sentral masih akan melihat bagaimana perkembangan data tenaga kerja dan inflasi ke depan.
Di sisi lain, kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan AS terhadap berbagai mitra dagangnya membawa implikasi bagi perekonomian domestik, karena berpotensi mendorong inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi tahunan di AS pada April 2025 turun menjadi 2,3 persen secara tahunan (yoy), merupakan level terendah sejak Februari 2021 dan berada di bawah konsensus pasar yang sebesar 2,4 persen.
Josua memandang, data inflasi AS ini juga memberikan sinyal bahwa tanda-tanda pelemahan ekonomi AS sudah berada di depan mata.
Dampak ke Indonesia
Potensi penurunan FFR selanjutnya berimplikasi pada suku bunga di berbagai negara termasuk Indonesia. Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, setidaknya terdapat tiga faktor yang menentukan arah BI-Rate salah satunya yakni inflasi domestik.
Dia memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia kemungkinan akan meningkat namun masih berada dalam level yang manageable sehingga ruang pemotongan BI-Rate memang cukup terbuka. Permata Bank sendiri memperkirakan inflasi IHK (headline inflation) Indonesia berada di kisaran 2,33 persen pada akhir tahun ini.
Selain inflasi, arah BI-Rate juga ditentukan dari sisi neraca transaksi berjalan (current account). Faisal memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan melebar, tetapi masih akan terjaga di bawah 1 persen yang artinya ini dapat memberikan ruang pemotongan BI-Rate ke depan.
Terakhir, arah BI-Rate ditentukan dari kondisi global. Faisal mengatakan, faktor ini tidak bisa dikontrol tetapi ia berharap indikasi saat ini dan ke depan akan cenderung positif sehingga ruang pemotongan FFR juga akan semakin lebar.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jelang Hari Besar Keagamaan, Bupati Mimika Ajak Warga Perkuat Toleransi
-
Harga Terbaru Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Rabu (04/2) Siang Ini
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
BPS: Angka Kemiskinan Jakarta Turun ke 4,03%, Terendah Sejak Pandemi
-
Kemacetan di Selat Hormuz Bahayakan Kelompok Rentan Dunia
-
Athletic dan Sociedad Berebut Tiket Final Copa del Rey
-
Warga Diungsikan, Rumah Rusak akibat Tanah Bergerak di Pamekasan Madura Bertambah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.