Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Ekspektasi Pengetatan The Fed Picu Aksi Investor
Rabu, 24 Jun 2026, 17:42 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah yang dipicu meningkatnya probabilitas pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), yaitu Federal Reserve (The Fed), mencerminkan sensitivitas pasar keuangan terhadap perubahan arah suku bunga global.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi di AS cenderung mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.
Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, dampaknya terhadap ekonomi domestik akan sangat bergantung pada fundamental ekonomi nasional, stabilitas inflasi, serta respons kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga kepercayaan investor dan kestabilan pasar keuangan.
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (24/6) sore melemah 93 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.859 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan probabilitas lebih tinggi atas pengetatan kebijakan Federal Reserve (The Fed).
âPara pedagang sekarang melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk pengetatan kebijakan Fed dalam beberapa bulan mendatang setelah pertemuan kebijakan minggu lalu dan komentar yang agresif dari para pejabat. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen pada bulan September, dan sepenuhnya memperkirakan kenaikan lainnya pada bulan Desember,â ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Sentimen lainnya berasal dari kesepakatan antara Iran dan AS yang masih diliputi ketidakpastian seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran telah menyetujui inspeksi nuklir hingga tak terbatas. Adapun Teheran menyampaikan bahwa mereka tak membuat konsesi seperti itu dalam negosiasi.
Melihat sentimen dalam negeri, pasar disebut merespons positif terhadap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November.
âPeninjauan yang diperpanjang ini menyusul kekhawatiran yang muncul awal tahun ini mengenai aksesibilitas pasar, dengan penyedia indeks membekukan perubahan pada indeks ekuitas Indonesia pada Januari karena masalah investability,â kata Ibrahim.
Dengan demikian, lanjut dia, proses peninjauan terhadap status pasar Indonesia masih berlangsung dan akan menjadi salah satu perhatian utama para pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Hasil evaluasi tersebut dipandang penting karena dapat memberikan gambaran mengenai persepsi investor internasional terhadap kualitas, keterbukaan dan efisiensi pasar modal domestik.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.868 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tumbuh 1.144 Persen, Transaksi Tanpa Sentuh BRI Meledak, Dompet Fisik Mulai Ditinggalkan?
-
Trump Nilai Iran Sengaja Ulur Waktu Perundingan
-
Liga Inggris: Manchester United Selangkah Lagi Lolos ke Liga Champions Usai Tumbangkan Brentford
-
Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Konflik AS–Iran Kembali Guncang Pasar Keuangan Global
-
Mengenang Zulmansyah Sekedang, Sosok Total dan Berdedikasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.