Hasil Pemilu Jadi Penentu Nasib Sara Duterte

Rabu, 14 Mei 2025, 02:45 WIB

MANILA - Saat hasil pemilu sela Filipina masih dihitung pada Senin (12/5), wakil presiden yang dimakzulkan, Sara Duterte, merilis sebuah pernyataan sebelum tengah malam yang memberi tahu para pendukungnya bahwa hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan.

Namun, para analis yang berbicara kepada AFP pada Selasa (13/5) menyatakan dia mungkin muncul lebih kuat dari yang diharapkan menjelang sidang Senat yang akan memutuskan nasib politiknya musim panas ini.

Ket. Foto: Wapres Filipina, Sara Duterte, saat tiba di Kementerian Kehakiman di Manila pada 9 Mei lalu. — Sumber: AFP/Jam STA

Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu dimakzulkan oleh DPR pada Februari lalu atas tuduhan kejahatan tingkat tinggi termasuk dugaan rencana pembunuhan terhadap bekas sekutu yang berubah menjadi musuh, Presiden Ferdinand Marcos Jr.

Ke-12 senator yang terpilih pada Senin akan bergabung dengan 12 petahana untuk bertugas sebagai juri di persidangan pemakzulannya, yang dapat mengakibatkan Sara dilarang secara permanen dari jabatan publik.

Hingga Selasa, dengan lebih dari 90 persen daerah pemilihan melaporkan hasil penghitungan suara, lima kandidat yang berpihak pada kubu wakil presiden tampak yakin akan memperoleh kursi.

“Peluang pembebasannya meningkat karena pemilu,” kata Aries Arugay, peneliti senior tamu di Institut Yusof Ishak ISEAS Singapura.

Dengan mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan untuk vonis bersalah, Sara Duterte membutuhkan sembilan suara untuk mempertahankan harapan untuk bisa mencalonkan di sebagai presiden di masa mendatang.

“Dengan tiga senator petahana yang sudah dianggap sebagai sekutu kuat, ada peluang besar bahwa pemungutan suara akan menghasilkan pembebasan daripada hukuman,” kata Froilan C Calilung, asisten profesor ilmu politik di Universitas Santo Tomas.

Namun fakta bahwa para kandidat saat ini berpihak pada Duterte bukan merupakan jaminan mengenai bagaimana mereka akan memberikan suara di persidangannya, kata Jean Franco, asisten ketua departemen ilmu politik Universitas Filipina.

“Adalah suatu kebodohan untuk mengandalkan dukungan permanen mereka,” ungkap dia.

Dalam waktu hanya lebih dari sebulan, dua lawan utama pemerintahan Marcos tampaknya telah disingkirkan dari papan catur politik Filipina.

Setelah pemakzulan Sara Duterte dalam sidang yang diawasi oleh Ketua DPR, Martin Romualdez, sepupu Marcos Jr, Rodrigo Duterte ditangkap dan dipindahkan ke Den Haag untuk menghadapi dakwaan terkait tindakan kerasnya yang mematikan terhadap narkoba.

Namun, orang Filipina memiliki keterikatan khusus terhadap kaum yang tertindas dan pemimpin yang teraniaya,” ucap Anthony Lawrence Borja, profesor madya di Fakultas Ilmu Politik dan Studi Pembangunan Universitas De La Salle.

Pemilihan Wali Kota

Sementara itu mantan Presiden Rodrigo Duterte yang kini ditahan di Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan, kembali memenangkan pemilihan wali kota di Kota Davao yang merupakan basis keluarga melalui pemungutan suara telak pada Senin, berdasarkan hasil penghitungan awal.

Dengan perolehan suara lebih dari 60 persen, Duterte, 80 tahun, telah meraih keunggulan yang tidak dapat disaingi oleh pesaing terdekatnya, berdasarkan hasil Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dirilis oleh media lokal.

Menyusul laporan ini, Sara Duterte, mengatakan kepada wartawan bahwa sebuah rencana sudah disusun untuk memastikan ayahnya resmi menjadi wali kota.

“Pengacara ICC dan pengacara asal Filipina yang membantu Duterte sedang berdiskusi mengenai cara agar mantan Presiden Filipina itu dapat diambil sumpahnya sebagai pemenang kontes wali kota di Kota Davao,” ucap Sara, seraya menambahkan bahwa mereka memiliki waktu hingga 30 Juni untuk melaksanakan hal itu. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.