Momentum Langka: Pertanian Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak 2009, Apa Dampaknya?
Selasa, 06 Mei 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sektor Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan double digit pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir, yakni sebesar 10,52 persen year-on-year (yoy) pada triwulan I 2025.
âJadi, dalam waktu kurun 2010 sampai dengan 2025, baru kali ini pertanian bisa tumbuh double digit di triwulan I. Oleh sebab itu, selama 15 tahun terakhir, kali ini adalah pertumbuhan sektor pertanian yang tertinggi,â ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin (5/5).
Ia menuturkan bahwa peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dari Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan didorong oleh pertumbuhan subsektor tanaman pangan sebesar 42,26 persen yoy, berkat panen raya padi dan jagung.
BPS mencatat bahwa produksi padi melonjak 51,45 persen, sedangkan produksi jagung naik 39,02 persen yoy pada triwulan I 2025.
Amalia menyampaikan kenaikan produksi tersebut terjadi karena panen raya tahun ini kembali normal setelah pada tahun-tahun sebelumnya menurun akibat fenomena El Nino.
Ia mengatakan bahwa pertumbuhan Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan juga ditopang oleh pertumbuhan subsektor peternakan yang didorong oleh permintaan domestik terhadap daging dan telur saat Ramadan dan Idul Fitri.
Kontribusi ke PDB
Seiring dengan pertumbuhan yang tinggi tersebut, ia menyatakan bahwa Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menduduki posisi ketiga sebagai kontributor terbesar terhadap pertumbuhan PDB pada triwulan I 2025.
âJadi, share (kontribusi) sektor pertanian terhadap PDB sebesar 12,66 persen, sehingga dengan pertumbuhan tinggi ini memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025,â kata Amalia Adininggar Widyasanti.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,87 persen year-on-year (yoy) pada triwulan I 2025 dengan realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp5.665,9 triliun dan PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) senilai Rp3.264,5 triliun.
âBila dibandingkan dengan triwulan IV 2024 atau secara q-to-q (quarter-to-quarter/kuartalan) ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 0,98 persen,â imbuh Amalia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
UE Minta Warganya WFH dan Kurangi Kecepatan Kendaraan
-
Kemenpar: Bali Masih jadi Primadona Destinasi Wisata “Wellness”
-
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat di NTT hingga 4 Februari 2026
-
Bogor Hornbills Tumbangkan Rans Simba 80-68
-
Utamakan Keselamatan Perwira di tengah Eskalasi Geopolitik, PIEP Relokasi Pekerja
-
Kim Jong-un Kembali Terpilih sebagai Sekjen Partai Buruh Korut
-
San Antonio Spurs Hentikan Perlawanan Miami Heat dengan Skor 136-111
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.