Mengendalikan Inflasi Tak Cukup dengan Operasi Pasar, Perlu Diversifikasi Pangan
Selasa, 06 Mei 2025, 10:38 WIBJAKARTA â Upaya pengendalian inflasi tak cukup hanya mengandalkan operasi pasar atau intervensi harga jangka pendek. Transformasi pola konsumsi masyarakat dinilai menjadi strategi jangka panjang yang tak kalah penting dalam meredam gejolak harga pangan.Â
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Andriko Noto Susanto dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri, Senin (5/5).
Andriko menjelaskan, penguatan konsumsi pangan lokal menjadi salah satu pendekatan berkelanjutan yang mampu menahan tekanan inflasi, terutama dari kelompok komoditas pangan bergejolak (volatile food). âKita tidak bisa hanya mengandalkan pasar diguyur. Masyarakat harus punya akses dan preferensi terhadap pangan yang beragam dan terjangkau,â ujarnya.
Langkah tersebut, menurut Andriko, sejalan dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2025 yang mendorong kepala daerah untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah masing-masing, termasuk melalui diversifikasi konsumsi dan produksi pangan lokal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi beras Indonesia masih tinggi, mencapai 90,6 kilogram per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan Malaysia (78,2 kg), Jepang (50,8 kg), maupun Korea Selatan (53,5 kg). Sebaliknya, konsumsi umbi-umbian yang kaya karbohidrat justru masih sangat rendah, hanya 3,26 kilogram per kapita per tahun berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2022.
âKondisi ini menunjukkan bahwa pilihan pangan masyarakat masih sangat sempit. Padahal, kita punya potensi besar di pangan lokal seperti jagung, sagu, sorgum, dan talas,â tambah Andriko.
Langkah Nyata
Sebagai bentuk intervensi nyata, NFA menjalankan program Desa B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) yang menyasar rumah tangga di tingkat desa untuk mengubah pola konsumsi. Program ini telah menjangkau 800 titik lokasi pada tahun 2025.
Melalui pendampingan, pelatihan, dan penyuluhan berbasis pangan lokal, NFA mendorong masyarakat untuk mengolah dan mengonsumsi bahan pangan sesuai potensi daerah masing-masing. âKita tidak bicara pengganti beras, tapi penyanding beras. Ada banyak sumber karbohidrat dan gizi yang bisa dimaksimalkan,â ucap Andriko.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatajan bahwa diversifikasi pangan menjadi komponen penting dalam kerangka membangun ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat, "Jadi selain intensifikasi dan ekstensifikasi, diversifikasi pangan juga harus terus didorong oleh semua pihak dalam kerangka mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, yang berbasis pada kemandirian dan kedaulatan pangan," ujar Arief.Â
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
Tegas! Kepala Bapanas Ingatkan: Jangan Ada yang "Bermain-main" di Rantai Distribusi Pangan
-
TNI Pulihkan Fasilitas SDN di Tapanuli Tengah Pascabanjir Susulan
-
Cuaca Hari Ini, BMKG: Mayoritas Kota di Indonesia Diguyur Hujan Ringan hingga Lebat
-
Masjid IKN Sediakan 700 Porsi Takjil Per Hari
-
Grup Rock Amerika Akan Manggung di Jakarta
-
Statistik Gila, Adames Menang Mutlak atas Williams, Akurasi Pukulannya Bikin Bergidik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.