Pakar UGM Sebut Keracunan Menu MBG Karena Penyimpanan dan Distribusi yang Buruk
Minggu, 04 Mei 2025, 23:52 WIBJAKARTA - Dietisien dari Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Leiyla Elvizahro, menyebut, keracunan massal dalam kasus MBG karena buruknya penanganan makanan, terutama dalam aspek penyimpanan dan distribusi. Menurutnya, makanan yang disajikan dalam jumlah besar harus memenuhi standar higienitas yang ketat.
"ermasuk pemakaian penutup makanan, penyimpanan di suhu yang tepat, serta kebersihan alat dan tenaga penyaji," ujar Leiyla, dalam keterangannya, dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (4/5).
Dia menjelaskan, faktor lain yang tak kalah penting adalah waktu antara proses masak dan konsumsi karena semakin lama jedanya, semakin tinggi potensi kontaminasi. Dengan demikian, penting bagi panitia penyelenggara acara untuk memastikan distribusi makanan dilakukan secara cepat dan efisien.
"Kalau makanan disimpan lebih dari empat jam tanpa penghangat atau pendingin, risiko pertumbuhan bakteri akan meningkat drastis," jelasnya.
Leiyla mengungkapkan, makanan berbahan dasar daging, ikan, dan produk susu menjadi kelompok yang paling rentan. Tanda-tanda kerusakan pada olahan daging misalnya bisa dikenali dari bau amis menyengat, warna kehijauan, serta tekstur yang berlendir.
Sementara susu yang sudah basi akan menggumpal dan mengeluarkan bau asam tajam. Jika dikonsumsi, kata dia, makanan ini bisa menyebabkan infeksi saluran cerna dan dehidrasi berat.
"Pangan hewani harus disimpan di suhu dingin dan dimasak dengan suhu cukup tinggi untuk membunuh bakteri patogen. Kalau sayur dan buah yang busuk dapat dilihat dari bentuknya yang layu, lembek, atau berlendir. Kulit buah juga mengkerut serta timbul jamur berwarna putih atau hijau,â katanya.
Leiyla juga meminta masyarakat waspada terhadap makanan yang disajikan terbuka, dikerumuni lalat, atau ditangani oleh petugas yang tidak menggunakan sarung tangan. DIa menyarankan agar pemerintah lebih selektif memilih tempat makan atau katering, khususnya untuk kegiatan besar.
"Kredibilitas penyedia makanan bisa menjadi indikator awal apakah proses pengolahan mereka mengikuti standar keamanan pangan. Kondisi dapur dan alat masak pun harus menjadi perhatian. Jangan ragu untuk mempertanyakan kebersihan makanan, apalagi jika dikonsumsi bersama-sama dalam jumlah besar," terangnya.
- UGM
- Pakar UGM
- Universitas Gadjah Mada (UGM)
- Keracunan MBG
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Hitung-hitungan Nasib Timnas Indonesia: Menang Lawan Singapura atau Rontok di Fase Grup!
-
88 Santri Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Masih Dirawat, 31 SPPG di Sidoarjo Belum Punya Izin
-
Mayoritas Konsumsi BBM Nasional Masih Menggunakan BBM Bersubsidi
-
Budidaya Ikan Tematik Jadi Andalan Pemkab Lebak Tingkatkan Produksi Perikanan.
-
Penundaan Harga Pakan Jadi Angin Segar, Tapi Sampai Kapan?
-
KMP Mutiara Sentosa II Terbakar, Menhub Janji Evaluasi Total Keselamatan Pelayaran
-
Penutupan Sebagian Akses Wisata Bromo untuk Mendukung Penanganan Kebakaran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.