Transisi Energi di Persimpangan, Gas Fosil Bawa Lebih Banyak Risiko daripada Manfaat

Selasa, 29 Apr 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Kebijakan transisi energi di Indonesia dinilai masih kurang ambisius. Pasalnya, sejumlah solusi palsu masuk ke dalam skema transisi energi, seperti penggunaan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS)/ Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS), bioenergi dari pemanfaatan kelapa sawit, serta masuknya gas dan nuklir.

Hal itu menjadi inti laporan Greenpeace dan Center of Economic and Law Studies (Celios) yang menyoroti penggunaan gas fosil sebagai energi transisi yang justru akan menghambat upaya transisi energi di Indonesia. Dalam laporan tersebut, Greenpeace dan Celios menyampaikan beberapa temuan, di antaranya kerugian output ekonomi dari pengembangan gas fosil, penurunan serapan tenaga kerja, dampak kesehatan dan lingkungan, serta potensi peningkatan emisi.

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira mengatakan, dari sisi ekonomi angkanya juga tak kalah fantastis. — Sumber: antara

“Dari segi dampak kesehatan, pembangkit gas fosil dengan skenario 22 gigawatt (GW) memberikan beban biaya kesehatan hingga 89,8 – 249,8 triliun rupiah dalam 15 tahun ke depan. Selain itu, ekspansi pembangkit gas fosil dalam skenario 22 GW akan mengakibatkan lonjakan emisi CO2 hingga 49,02 juta ton per tahun, dan emisi Metana (CH4) hingga 43.768 ton per tahun,” ucap Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak di Jakarta, akhir pekan lalu.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira mengatakan, dari sisi ekonomi angkanya juga tak kalah fantastis. Dia menambahkan pembangkit gas fosil justru akan menurunkan output ekonomi sebesar 941,4 triliun rupiah, secara akumulatif hingga 2040, sementara pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) siklus gabunganakan menurunkan output hingga 280,9 triliun rupiah.

“Dari sisi serapan tenaga kerja, pembangkit turbin gas berisiko menurunkan serapan tenaga kerja hingga 6,7 juta orang, angka ini mempertimbangkan gangguan pada pendapatan masyarakat di sektor terdampak seperti sektor kelautan dan perikanan. Dampak kesehatan yang ditimbulkan dari pembangkit gas fosil dengan skenario 22 GW memberikan beban hingga 89,8-249,8 triliun rupiah dalam 15 tahun kedepan," tambahnya.

Sementara menurut perhitungan Celios, jika Indonesia fokus dan beralih pada pengembangan energi terbarukan justru akan berkontribusi positif terhadap perekonomian sebesar 2.627 triliun rupiah pada 2040. Jumlah serapan tenaga kerja bila pembangkit terbarukan skala komunitas dikembangkan secara masif bisa mencapai 20 juta orang pada 2040.

Kontra Produktif

Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, Rahma Shofiana menuturkan, dalam pidatonya di KTT G20 pada November 2024 di Brasil, Presiden Prabowo Subianto menyerukan pentingnya aksi kolektif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mengatasi dampak perubahan iklim. Dia menambahkan, Presiden menegaskan Indonesia memiliki agenda transisi energi hijau untuk mencapai nol emisi 2050 dengan penggunaan biodiesel dan menutup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), kemudian beralih ke sumber energi baru terbarukan.

"Sayangnya, pidato tersebut tak lebih dari sekedar menjual janji. Komitmen pemerintah dalam upaya transisi energi bertolak belakang dengan kebijakan energi yang disampaikan oleh pemerintah dengan rencana untuk menjadikan gas fosil sebagai energi transisi dan merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Gas Fossil baru dalam jumlah besar, seperti yang tercantum pada Accelarated Renewable Energy Development (ARED) yang akan dituangkan pada RUPTL selanjutnya," papar Leonard.

Peneliti Celios Bakhrul Fikri menambahkan laporan ini menekankan sejumlah solusi yang ditawarkan pada kebijakan energi pemerintah seharusnya bukan solusi palsu yang hanya akan memperpanjang ketergantungan Indonesia terhadap penggunaan energi fosil.

Beberapa rekomendasi yang dihasilkan dari laporan ini, di antaranya adalah pemerintah harus membatalkan rencana penambahan pembangkit gas fosil baru dari dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2025-2034 yang akan datang, membuat Peta Jalan Pemensiunan Pembangkit Listrik dari gas fosil dan bahan bakar fosil lainnya, serta mempercepat transformasi ekonomi melalui fokus pada energi terbarukan, khususnya energi surya dan angin, bukan pembangkit gas fosil.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.