Sinergi Pemerintah dan Rakyat, Kunci Atasi Krisis Sampah di Perkotaan

Kamis, 24 Apr 2025, 16:50 WIB

PEKALONGAN – Dalam era urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, pengelolaan sampah bukan lagi persoalan teknis semata. Persoalan sampah harus menjadi agenda kolektif, mulai dari pemerintah hingga lapisan paling bawah masyarakat yakni rumah tangga.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Taj Yasin Maimoen saat membuka Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Korwil III yang berlangsung di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (24/4).

Ket. Foto: Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen, saat membuka Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) III APEKSI Korwil III di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (24/4). — Sumber: istimewa

“Sampah itu bukan hanya urusan pemerintah. Masyarakat juga harus punya kesadaran. Kalau tidak, pengelolaan yang dilakukan pemerintah pun tidak akan maksimal,” ujarnya.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin ini, isu pengelolaan sampah sering kali hanya dipahami sebagai persoalan teknis yakni mengangkut, membuang, dan menimbun. Padahal, esensinya lebih dalam dari itu.

“Kita harus membawa isu ini ke ruang diskusi publik, ke keluarga, ke dapur, ke ruang tamu. Harus menjadi obrolan sehari-hari,” tandasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah juga berkaitan erat dengan isu kesehatan masyarakat, termasuk masalah stunting.

Lingkungan kotor dapat memperburuk kondisi gizi dan kesehatan anak-anak, terutama di permukiman padat dan kurang bersanitasi.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yasin memberikan apresiasi terhadap langkah Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan, yang cepat merespons persoalan sampah dengan meningkatkan alokasi anggaran.

Ia juga menyinggung tantangan lahan dan resistensi warga terhadap lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir), yang kerap terjadi di kawasan urban.

Lebih lanjut, Ia menyebut dua daerah di Jawa yang telah mencatatkan prestasi dalam pengelolaan sampah, yakni Kota Surabaya, yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO atas inovasi dan keberhasilan program pengurangan sampah berbasis masyarakat.

Kabupaten Banyumas, yang sukses menjalin kerja sama dengan industri untuk pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif, terutama di sektor pabrik semen.

“Kita tidak bicara siapa lebih hebat, tapi siapa bisa jadi inspirasi. Ini ilmu yang harus dibagikan ke kota lain. Karena semua kepala daerah menghadapi tantangan yang sama,” ucapnya.

Pihaknya menekankan bahwa edukasi publik adalah pondasi utama. Tanpa perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, pengelolaan sampah hanya akan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.

“Mulai dari pemilahan sampah di rumah. Kalau masyarakat tidak paham, semua akan tercampur dan akhirnya tidak bisa diolah. Edukasi jadi langkah pertama,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menurunkan volume sampah.

“Bareng-bareng kurangi sampahnya, bareng-bareng kelola. Ini bukan program satu tahun, tapi perjuangan jangka panjang,” pungkasnya.

Isu pengelolaan sampah kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Ia menyentuh urusan ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga moral publik. Jawa Tengah, melalui semangat kolaboratif dan inovasi lokal, tengah membuka jalan menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.