Perkuat Pasar AC Lokal dan Global, LG Investasi Pabrik Baru Senilai Rp 374 Miliar

Rabu, 16 Apr 2025, 18:35 WIB

BEKASI -. Genap berusia 35 tahun di Indonesia pada 2025 ini, PT LG Electronics Indonesia (LG) mengumumkan kesiapannya dalam mengoperasikan pabrik penyejuk udara (air conditioner/AC) baru di Indonesia. Hal ini sebagai wujud komitmen pada peningkatan operasionalnya pabrik asal Korea di Indonesia

Pabrik baru yang berada di kawasan industri Cibitung Bekasi akan diperluas untuk peningkatan produksi AC-nya di dalam negeri baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Pabrik ini dijadwalkan bakal siap beroperasi penuh pada akhir tahun ini.

Ket. Foto: Acara Peninjauan Pabrik AC LG Electronics yang berada di kawasan industri Cibitung, Kabupaten Bekasi pada hari Senin (16/4). Pabrik seluas 32.000 meter persegi ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025. — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

“Kami dengan bangga mengumumkannya sebagai dukungan nyata kami pada masyarakat Indonesia,” ujar President of LG Electronics Indonesia, Ha Sang-chul, pada acara Peninjauan Pabrik AC LG Electronics di kawasan industri Cibitung, Kabupaten Bekasi pada hari Rabu (16/4).

“Ini merupakan sebuah investasi strategis yang mengukuhkan langkah evolusi perusahaan dalam penciptaan lapangan pekerjaan sekaligus menjadi yang terdepan dalam proses manufaktur di dalam negeri,” ujar Ha Sang-chul.

Pabrik AC LG baru itu akan menempati area 32,000 meter persegi. Produk yang diproduksi kata Ha Sang-chul berupa AC untuk segmen pasar hunian maupun bagi kebutuhan bangunan komersial, seperti hotel dan perkantoran.

Dengan total nilai investasi awal senilai 22 juta dollar AS atau 374 miliar rupiah, pabrik baru ini akan memiliki kapasitas produksi awal sekitar 1,8 juta unit AC pada tahun pertamanya. Dalam rencananya, LG bakal meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat pada tahun-tahun berikutnya.

Terkait dengan rencana besarnya untuk memproduksi AC di dalam negeri, LG menyatakan akan menerapkan standar kualitas Korea yang sama yang diterapkan LG bagi seluruh fasilitas produksinya di dunia. Salah satunya dilakukan dengan menerapkan pengawasan kualitas yang ketat pada setiap tahapan produksi untuk memastikan performa maksimal, efisiensi energi, dan daya tahan yang andal.

Upaya memastikan kualitas AC LG produksi dalam negeri ini bakal setara dengan kualitas AC LG di tingkat global, menurut Ha Sang-chul, tak lepas dari reputasi tinggi yang telah dimiliki AC LG atas inovasi dan kepercayaan penggunanya di berbagai belahan dunia. Bahkan tak hanya di tingkat global, AC LG khususnya kategori AC rumah tangga, telah memiliki reputasi tinggi atas inovasi dan kepercayaan konsumen Indonesia.

Pernyataannya ini merujuk pada berbagai penghargaan yang berhasil diraih AC LG khususnya untuk kategori rumah tangga. Termasuk diantara penghargaan ini yaitu Top Brand Award 2024 - 2025, Brand Choice Award 2024-2025, Wow Brand Award 2025, serta Super Brand Award 2025.

Tak hanya itu, AC Inverter LG kapasitas 0.5 PK (T05EV5) telah mendapat sertifikasi hasil uji dari Universitas Indonesia (UI) sebagai produk pendingin udara yang memiliki tagihan listrik hanya 1,500 rupiah.

Lebih lanjut terkait dengan pembangunan fasilitas produksi AC barunya ini, dikatakan Mike Kim selaku Product Director ES of LG Electronics Indonesia, tak hanya berfokus pada upaya pemenuhan permintaan pasar. Keberadaan fasilitas produksi AC LG ini, menurutnya, juga menjadi dukungan nyata LG bagi pembangunan ekonomi dalam negeri.

“Lebih dari penciptaan lapangan kerja, namun pada pertumbuhan ekonomi yang mengedepankan penciptaan lingkungan berkelanjutan,” ujar Mike Kim.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, menurutnya, keberadaan pabrik AC yang menjadi bentuk lokalisasi rantai pasokan ini akan mendukung pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mentargetkan hingga lebih dari 40 persen menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah.

Sementara perhatian pada penciptaan lingkungan berkelanjutan, ditunjukkan melalui penggunaan refrigerant R32 yang ramah lingkungan dan memproduksi AC sesuai dengan Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) hingga bintang 5. Hal yang selaras dengan kebijakan pemerintah untuk harmonisasi SKEM ASEAN.

Dari sisi perusahaan sendiri, keberadaan pabrik AC ini akan semakin melengkapi struktur bisnis LG di Indonesia. Dengan kehadirannya di akhir tahun ini, LG bakal tercatat memiliki tiga kelompok fasilitas produksi.

Melengkapi yang sebelumnya telah ada fasilitas produksi TV dan perangkat elektronik rumah tangga seperti kulkas dan mesin cuci. Struktur bisnis LG di Indonesia juga mencakup pusat riset dan pengembangan, pusat pemasaran, layanan pengguna serta rantai distribusi produk yang tersebar di Indonesia.

“Dengan kelengkapan struktur bisnis yang bakal diperkuat dengan keberadaan pabrik AC baru ini nantinya, tak hanya menambah kecepatan kami dalam memenuhi permintaan pasar domestik yang tinggi, namun kedepannya pabrik AC baru ini juga memiliki target untuk memenuhi kebutuhan pasar mancanegara (ekspor),” ujar Mike Kim.

Bahkan, “Saling sinerginya struktur ini didalam semangat besar untuk memberikan layanan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia, dapat menjadi embrio bagi tumbuhnya berbagai inovasi yang akan meneguhkan langkah evolusi perusahaan menjadi Smart Life Solution Company di dunia dan juga di Indonesia,” tambah Ha Sang-chul.

Tekan Ketergantungan Impor

Pada kesempatan yang sama Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong peningkatan ekspor produk air conditioner (AC) hingga 10 juta unit per tahun, di tengah tingginya kebutuhan AC secara global. Pasalnya dari kebutuhan kebutuhan sebesar 4,5 juta unit AC di di tanah air industri di Indonesia baru memproduksi sebanyak 2,1 juta unit selebihnya adalah impor.

Ia mengatakan ketergantungan terhadap impor komponen masih menjadi tantangan bagi industri AC di Indonesia. Oleh karenanya, perlu memperkuat industri komponen AC dalam negeri agar pasokan bagi industri hilir tidak lagi bergantung pada impor.

“Pemerintah ingin ekspor AC ini ditingkatkan hingga 10 juta unit setiap tahun. Kebutuhan AC dunia itu mencapai 2 miliar unit. Kalau kita ekspor 10 juta ini belum apa-apa dibandingkan kebutuhan AC seluruh dunia,” kata Wamen Riza.

Saat ini di Indonesia terdapat 32 juta rumah tangga. Namun penggunaan AC baru sebesar 7,9 persen. Dengan demikian pasar produk penyejuk udara ini masih sangat cerah, sehingga ia mendorong agar LG meningkatkan kapasitas produksinya dari 1,8 juta unit saat ini menjadi 2,6 juta unit.

“Pemerintah mendorong PT LG Electronics Indonesia menjadi produsen AC untuk pasar luar negeri. Kami yakin LG akan menjadi perusahaan yang tangguh untuk bersaing di pasar global," ujarnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.