Penjurusan SMA Kebijakan Realistis

Senin, 14 Apr 2025, 22:33 WIB

JAKARTA - Pakar pendidikan dari Tamansiswa, Ki Darmaningtyas, menilai, mengembalikan penjurusan SMA merupakan kebijakan yang paling realistis. Hal tersebut mempertimbangkan dampak positif dan negatif kebijakan tersebut.

"Kembali ke penjurusan tidak dosa, karena kebetulan peminatan ini juga baru dalam taraf uji coba, dan ternyata hasil uji cobanya tidak recomended untuk dilanjutkan karena adanya berbagai kendala di lapangan," ujar Darmaningtyas, di Jakarta, Senin (14/4).

Ket. Foto: Pakar pendidikan dari Tamansiswa, Ki Darmaningtyas. — Sumber: Foto tangkapan layar TVR Parlemen DPR RI

Dia mengungkapkan ada empat dampak positif penjurusan SMA. Pertama, meski tampak lebih tegas, penjurusan SMA tidak membuat pembelajaran tumpang tindih dan dapat membantu membekali murid yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

"Mereka yang akan melanjutkan ke prodi teknik misalnya, akan memperkuat mata pelajaran fisika dan matematika. Mereka yang akan melanjutkan ke farmasi dan kedokteran akan memperkuat mata pelajaran biologi dan kimia, dan seterusnya," jelasnya.

Kedua, lanjut dia, murid lebih mudah memilih fokus pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan bakat dan sangat membantu memilih fakultas yang akan dimasuki saat mendaftar di perguruan tinggi. Ketiga, kebutuhan infrastruktur fisiknya juga dapat diketahui secara pasti.

Darmaningtyas menyebut, dampak positif keempat yaitu sekolah lebih mudah mengatur jadwal pembelajaran. Kebutuhan guru untuk masing-masing mata pelajaran dalam satu kelas sudah diketahui secara pasti, sehingga ketika jumlah gurunya tidak mencukupi, kekurangannya dapat diprediksi secara pasti.

"Bagi pemerintah sendiri, jauh lebih mudah memprediksikan kebutuhan guru SMA untuk masing-masing mata pelajaran," katanya.

Dia mengakui adanya sisi negatif dari penjurusan SMA yaitu pada aspek sosiologis. Menurutnya, ada persepsi keliru bahwa Jurusan IPA adalah jurusan yang paling top. Padahal tidak demikian.

"Di tengah berkembangnya profesi baru yang memberikan imbalan tinggi dan justru itu banyak didominasi oleh mereka yang berlatar belakang sosial humaniora, persepsi negatif itu lama-lama akan terkikis juga," ucapnya.

Sebagai informasi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti akan menghidupkan kembali sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Kebijakan ini selaras dengan program Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional dan bisa menjadi landasan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

  • Kemendikdasmen
  • Jurusan SMA

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.