Relasi Kuasa Penyebab Kasus Kekerasan Seksual Berulang
Minggu, 13 Apr 2025, 22:27 WIBJAKARTA - Relasi kuasa jadi penyebab kasus kekerasan seksual berulang, terutama di institusi pendidikan. Koordinator Lingkar Studi Feminis, Eva Nurcahyani, mengatakan, relasi kuasa ditemukan di semua jenjang pendidikan.
"Kekerasan seksual di lingkup pendidikan, baik itu di tingkat SD, SMA, SMP atau SMK dan juga perguruan tinggi, itu pola-polanya sama sebenarnya. Adanya relasi kuasa," ujar Eva, dalam diskusi publik, di Jakarta, Minggu (13/4).
Dia menyebut, sistem pendidikan di Indonesia sangat maskulin. Kondisi tersebut tidak hanya membuat kasus kekerasan seksual berulang, tapi juga terjadi pembungkaman kasus.
"Kultur dan budaya yang maskulin itu juga menjadi salah satu penyebab kenapa adanya kekerasan seksual dan juga bahkan kasusnya itu dibungkam," jelasnya.
Eva mengungkapkan, dalam menangani tiap kasus kekerasan seksual sangat penting memperhatikan kondisi korban. Menurutnya, tiap tahapan penanganan kasus harus berdasarkan persetujuan korban.
Dia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu bersikap seperti pahlawan. Termasuk dalam memviralkan atau mendorong korban bicara tanpa persetujuan.
"Terkadang kita bersikap seperti hero, bahwa oke gue memang aktif sebagai apa ya, mungkin aktivis atau mungkin sebagai orang yang memang pro-korban dan lain sebagainya, tanpa kita melihat bagaimana kondisi korban," jelasnya.
Sebagai informasi, kasus kekerasan seksual menjadi masalah yang kerap berulang di institusi pendidikan. Terbaru, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) terbukti melakulan kekerasan seksual kepada mahasiswa.
Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Chatarina Muliana Girsang, mengatakan, kampus berperan penting mencegah kekerasan seksual. Menurutnya, pimpinan kampus yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan kampus menjadi ruang belajar yang aman bebas dari segala bentuk kekerasan bagi semua warga kampus.
"Tentu saja kementerian tidak bisa menjamin hal tersebut tidak akan terulang, karena sesuai otonomi perguruan tinggi, maka pimpinan kampus yang memiliki tanggung jawab," ucapnya.
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Jaga Pasokan, Pemerintah Harus Stabilkan Harga Cabai
-
Prabowo Setujui Penambahan Program Bedah Rumah pada 2027
-
Layar Besar, Fitur AI Cerdas, dan Harga Kompetitif Jadi Tren TV Masa Kini
-
Wamenekraf: Industri Esports Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Ekraf Nasional
-
Jakarta Robotic Games Jadi Agenda Tahunan, Gubernur Pramono: Cetak Talenta AI
-
Destinasi Wisata Didorong Berbenah, Kemenpar Pacu Lompatan Kualitas dan Daya Saing
-
Satu Orang Tewas, Lima Luka-luka dalam Serangan Senjata Api di Israel
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.