Penemuan Fosil Periode Jura di Tiongkok Ungkap Wawasan Baru Asal-usul Parasit

Kamis, 10 Apr 2025, 21:14 WIB

BEIJING - Penemuan fosil periode Jura di Tiongkok mengungkap wawasan baru perihal asal-usul parasit. Fosil yang baru diidentifikasi itu, Juracanthocephalus, termasuk ke dalam kelompok parasit yang telah dikenal sebagai cacing berkepala duri. Organisme endoparasit ini menghuni ekosistem laut maupun darat di seluruh dunia.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Nanjing Institute of Geology and Palaeontology under the Chinese Academy of Sciences/NIGPAS) tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature pada Rabu (9/4).

Dengan panjang mencapai sekitar satu hingga dua sentimeter, Juracanthocephalus memiliki tubuh berbentuk fusiform (meruncing di kedua ujungnya) yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni belalai (proboscis), leher, dan batang tubuh (trunk). Para peneliti meyakini bahwa parasit purba ini kemungkinan hidup di badan amfibi dan inang lainnya.

Ket. Foto: Sebuah sarang berisi fosil telur dan beberapa pecahan kulit telur ditemukan di Provinsi Fujian, Tiongkok. — Sumber: ANTARA/Xinhua

Belalainya yang dapat ditarik memiliki kait melengkung yang keras, yang berfungsi untuk menancapkan badan dengan kuat ke saluran pencernaan inangnya. Tubuh organisme tersebut memiliki 32 selubung beralur yang berfungsi seperti "setrip antiselip" alami untuk membantunya tetap tertancap dengan kuat di dalam usus inangnya.

Satu hal yang paling menarik, para peneliti menemukan mekanisme rahang yang rumit di dekat bagian depan batang tubuhnya, yang terdiri dari beberapa struktur seperti gigi yang ukurannya semakin besar di bagian belakang (posterior), menyerupai mesin penggiling daging mini. Para peneliti berspekulasi bahwa struktur rahang ini terutama digunakan untuk memproses nutrien dari jaringan inangnya.

Wang Bo, seorang peneliti di NIGPAS, mengatakan bahwa temuan ini memberikan bukti nyata untuk mengungkap misteri asal-usul acanthocephalan yang sudah lama ada.

"Parasit-parasit ini dapat menginfeksi berbagai macam inang, termasuk manusia, babi, anjing, kucing, dan ikan. Sebelumnya, bagaimana dan kapan kelompok parasit aneh ini berevolusi dari nenek moyang yang hidup bebas dan non-endoparasit selalu menjadi misteri," kata Wang.

Wang menyebutkan bahwa struktur rahang Juracanthocephalus menyerupai rotifera nenek moyangnya, sedangkan belalainya yang melengkung menunjukkan kemiripan yang jelas dengan acanthocephalan modern. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Juracanthocephalus berevolusi dari rotifera yang hidup bebas, mengembangkan struktur kepala khusus untuk beradaptasi dengan kehidupan parasit, yang menjadikan organisme tersebut penghubung penting dalam transisi evolusi.

Lebih lanjut, temuan ini bertentangan dengan pengetahuan konvensional tentang habitat tempat parasit ini pertama kali berevolusi. Meski acanthocephalan modern sebagian besar hidup di laut, Juracanthocephalus ditemukan di endapan terestrial, yang menunjukkan bahwa parasit ini mungkin pertama kali beradaptasi dengan hewan-hewan darat sebelum kemudian mendiami lingkungan laut, tambah Wang. Ant/Xinhua

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.