Guru Besar UGM Ungkap Pergeseran Penyebab Kematian Ibu dan Bayi

Kamis, 10 Apr 2025, 17:21 WIB


JAKARTA - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Detty Siti Nurdiati mengungkap salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi. Menurutnya, penyebabnya sudah mengalami pergeseran.

Dia menjelaskan, awalnya, penyebab pertama kematian ibu dan bayi awalnya pendarahan, diikuti hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi. Kini penyebabnya sudah bertransisi menjadi komplikasi non obstetri yang menduduki peringkat pertama diikuti dengan hipertensi dan perdarahan. 

Ket. Foto: Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Detty Siti Nurdiati, saat dalam pidato pengukuhan Guru Besar UGM, Kamis (10/4). — Sumber: Istimewa

“Komplikasi non obstetri merupakan suatu kumpulan penyakit yang berkaitan dengan gangguan metabolisme, termasuk di dalamnya penyakit jantung, obesitas, dan diabetes mellitus,” ujar Detty, dalam pidato pengukuhannya, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (10/4).

Dia menjelaskan, perubahan pola penyebab kematian ibu ini perlu ditelusuri lebih lanjut, agar dapat menjawab tantangan dan peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Bahkan identifikasi faktor risiko pun menjadi sangat penting untuk dilakukan sejak masa prakonsepsi, kehamilan, persalinan, sampai dengan pasca persalinan, agar penanganan yang dilakukan dapat komprehensif.

Strategi yang dilakukan pun, kata Detty, harus berdasarkan atas praduga every pregnancy is at risk. Artinya setiap kehamilan berisiko dan tidak ada kehamilan yang benar-benar bebas dari kemungkinan komplikasi.

“Upaya yang dilakukan bukan hanya penanganan pada saat kelahiran, namun juga untuk kehamilan-kehamilan selanjutnya,” jelasnya.

Sebagai informasi, angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, dengan rincian angka kematian Ibu (AKI) sebesar 189 per 10.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) sebesar 17 per 1000 kelahiran hidup. Meski telah terjadi penurunan dalam 10 tahun terakhir, namun angka ini masih jauh dari target pencapaian SDGs.

Detty mengungkapkan, umumnya permasalahan yang kerap terjadi di lapangan adalah adanya keterlambatan diagnosis. Padahal skrining dan deteksi dini kelainan pada janin seawal mungkin sangat bermanfaat.

Deteksi dini, kata Detty, akan membuat para ibu lebih awal menyadari kondisi kehamilannya. Dengan demikian, pengambilan keputusan untuk melanjutkan kehamilan atau melakukan terminasi kehamilan akan lebih tepat, aman, efektif dan efisien.

“Semakin muda umur kehamilan, semakin rendah risiko terjadinya komplikasi akibat tindakan terminasi tersebut baik dari segi fisik, fungsi reproduksi maupun dampak psikologis ibu,” katanya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.