Pakar Psikologi UI: Aktivitas Ibadah Selama Puasa Tingkatkan Kualitas Kesehatan Mental
Rabu, 26 Mar 2025, 23:42 WIBJAKARTA - Pakar Psikologi Klinis Universitas Indonesia (UI) Dini Rahma Bintari mengatakan melalui puasa, seseorang dapat belajar mengelola emosi negatif dan meningkatkan emosi positif, seperti rasa syukur dan kebahagiaan. Menurutnya, dengan menahan lapar, haus, serta emosi negatif, puasa mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan tawakal.
"Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 155, yang menyatakan bahwa cobaan seperti rasa takut dan lapar adalah ujian, namun kabar gembira diberikan kepada orang-orang yang sabar," ujar Dini, dikutip dari laman resmi UI, Rabu (26/3).
Dia menjelaskan, manfaat puasa lainnya bagi kesehatan mental adalah dengan meningkatkan kebiasaan bersedekah dan mengeluarkan zakat. Aktivitas sedekah dan zakat tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga meningkatkan kebahagiaan diri sendiri karena merasa berkontribusi dalam meringankan beban orang lain.
"Selain itu, berbagi juga memperkuat jaring pengaman sosial, mengurangi ketakutan dan kecemasan, serta meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah," jelasnya.
Dini mengungkapkan, puasa juga mengajarkan seseorang untuk menghayati makna hidup dengan lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi ketakutan akan masa depan. Menurutnya, puasa juga dapat menjadi terapi tambahan untuk gangguan mental tertentu, karena melatih empati, manajemen emosi, dan pengendalian hawa nafsu.
Proses menahan diri dari hal-hal yang biasanya mudah dilakukan, seperti makan atau marah, melatih seseorang untuk lebih sabar dan tahan menghadapi tekanan. Hal ini sangat bermanfaat bagi mereka yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi, karena puasa mengajarkan cara mengelola emosi dengan lebih baik.
"Sementara itu, meskipun waktu tidur mungkin berkurang selama puasa karena ibadah tarawih dan sahur, hal ini sebenarnya menciptakan keteraturan dalam hidup sesuai sunnatullah," katanya.
Dia menyebut, rasa lelah dan emosi negatif yang mungkin muncul selama puasa justru menjadi sarana latihan untuk tidak melampiaskan emosi secara berlebihan. Menurutnya, gunakan waktu untuk fokus melakukan hal produktif dan kontributif, seperti ibadah dan membantu sesama.
"Dengan menjalankan puasa secara holistikâbaik secara fisik, emosional, maupun spiritualâseseorang tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga merasakan dampak positifnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan mental," ucapnya.
- Universitas Indonesia (UI)
- Kesehatan Mental
- Tips Ramadan
- Universitas Indonesia
- tips puasa
- Pakar UI
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
BMKG Prakirakan Kota-kota Besar di Wilayah Indonesia Akan Diguyur Hujan dengan Intensitas Bervariasi
-
Proliga 2026: Kejutan, Jakarta Garuda Jaya Kalahkan Juara Bertahan
-
Dukung Logistik Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi, KAI Perkuat Angkutan Peti Kemas
-
Jam Operasional Padel Segera Diatur Gubernur Pramono agar Tak Ganggu Masyarakat
-
Capai 3.100 Kasus, Malaysia Dilanda Wabah TBC - Masyarakat Diminta Pakai Masker
-
Dua Gempa Beruntun Goyang Sumbar dan Sumut, BMKG: Tidak Picu Tsunami
-
BMKG: Sebagian Jakarta Diprediksi Hujan Siang Nanti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.