Koran-jakarta.com || Sabtu, 08 Mar 2025, 02:30 WIB

Perempuan Nigeria Menentang Norma dari Balik Kemudi

  • nigeria

Amaka Okoli menjadi sopir minibus tiga tahun lalu setelah ia kehilangan pekerjaannya sebagai bankir di Lagos, Nigeria. Perempuan berusia 38 tahun ini, kini memulai harinya pada pukul 5.30 pagi untuk memanfaatkan jam sibuk di pagi hari dan menyelesaikan harinya pada sore hari untuk melakukan pekerjaannya yang lain yaitu menjadi ibu dari tiga orang anak.

Perempuan Nigeria Menentang Norma dari Balik Kemudi

Ket. Blessing Onyedinma, 28 tahun, berpose di samping minibus yang ia kemudikan saat rehat di Lagos, Nigeria, pada akhir Februari lalu. Onyedinma adalah salah satu perempuan di Lagos yang alih profesi jadi sopir angkot setelah kemerosotan ekonomi di Nigeria

Doc: AFP/OLYMPIA DE MAISMONT Perempuan Nigeria Menentang Norma dari Balik Kemudi

"Jarang sekali melihat pengemudi komersial perempuan di Lagos, tetapi sekarang sudah berubah karena kami perlu menghasilkan uang," kata Okoli kepada AFP.

Okoli menjadi pengemudi setahun sebelum Nigeria terjerumus dalam krisis ekonomi terburuk dalam satu generasi, yang telah mempercepat tren di sektor yang secara tradisional didominasi oleh kaum laki-laki, kata para ahli.

"Saya merasa seperti menjalani dua kehidupan. Yang pertama adalah menjadi sopir minibus yang mengharuskan saya bersikap berani dan menyapa penumpang, dan yang kedua adalah kehidupan tenang sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anaknya," ungkap Okoli.

Mengemudikan minibus di Lagos bukan untuk orang yang lemah hati. Sistem angkutan umum yang ramai merupakan kunci, meski kacau, moda penyelamat bagi para pekerja yang harus menempuh perjalanan di jalanan kota besar yang tampaknya tak berujung.

Para sopir dan kondektur di dalam minibus-minibus bergaris hitam berwarna kuning cerah meneriakkan tujuan mereka di tengah kebisingan lalu lintas kepada para penumpang yang berharap dapat berdesakan di dalamnya.

Disebut korope atau danfo tergantung pada dimensi ukurannya, minibus milik pribadi tersebut mengangkut sekitar 10 juta penumpang setiap hari, menurut survei tahun 2015 oleh Otoritas Transportasi Metropolitan Lagos.

"Menjadi agresif adalah tuntutan dari pekerjaan karena pengemudi minibus lain dapat mencoba menipu saat tiba giliran Anda mengangkut penumpang, atau ada pengguna jalan lain yang nakal, karena Anda seorangperempuan," kata Okoli.

Kekhawatiran mengenai pengemudi minibus yang minum alkohol saat bekerja tersebar luas dan pihak berwenang melakukan kampanye dan mencoba untuk menekan angka minum dan mengemudi. Pelanggaran kecepatan tercatat telah menyebabkan sekitar 56 persen kecelakaan lalu lintas di seluruh negeri antara Januari dan Juni tahun lalu, kata Korps Keselamatan Jalan Raya Federal Nigeria.

Namun, kekacauan juga dapat menciptakan peluang bagiperempuan. "Penumpang sekarang lebih suka naik minibus yang dikemudikan perempuan karena mereka lebih bersih dan dianggap lebih berhati-hati saat mengemudi," kata Okoli.

Dampak Kemerosotan Ekonomi

Samuel Odewumi, profesor perencanaan dan kebijakan transportasi di Universitas Negeri Lagos, mengatakan maraknya pengemudi komersial perempuan terkait dengan kemerosotan ekonomi.

Reformasi yang menyakitkan yang menurut Presiden Bola Tinubu diperlukan, termasuk mengambangkan mata uang dan penghapusan subsidi bahan bakar yang mahal, telah menyebabkan lonjakan biaya hidup.

"Sebuah keluarga tidak bisa lagi bergantung pada satu pendapatan saja dan dalam beberapa kasus, perempuan telah menjadi pencari nafkah, dan hal itu mendorong mereka mengeksplorasi pekerjaan yang secara budaya ditugaskan untuk laki-laki," kata Odewumi kepada AFP.

Pemerintah juga berperan, kata dia, dengan otoritas negara bagian Lagos memberikan 20 persen peran pengemudi kepada perempuan dalam program angkutan umum massal.

Tren ini tidak terbatas pada minibus karena saat ini semakin banyak kaum perempuan yang mendaftarkan kendaraan mereka sendiri di sektor penyewaan taksi daring pada perusahaan seperti Uber atau Bolt.

Victoria Oyeyemi, presiden Ladies on Wheels Association of Nigeria, mengatakan kelompok tersebut dimulai pada tahun 2018 dengan enam perempaun dan sekarang malah memiliki lebih dari 5.000 anggota.

"Kami merasa perlu untuk menjaga diri sendiri, terutama di kota yang sibuk seperti Lagos, tempat kami semua bekerja keras," kata dia.

Okoli sendiri mengakui beban mental pekerjaannya sama beratnya dengan beban fisik, terutama saat ia dihentikan oleh petugas lalu lintas untuk membayar denda atau pungli. Setelah membayar semua itu, ditambah pungutan lain, dan membeli bahan bakar, dia mengaku hanya membawa pulang sekitar 40 persen dari penghasilannya.

"Karena beratnya beban pekerjaan ini, saya hanya menyetir tujuh kali trip walau uangnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, tetapi itu lebih baik daripada tetap menganggur," ungkap dia. AFP/I-1

Tim Redaksi:
A
I

Like, Comment, or Share:


Artikel Terkait