Seoul: Korut Kirim Lebih Banyak Pasukan ke Russia

Jumat, 28 Feb 2025, 02:59 WIB

SEOUL - Korea Utara (Korut) telah mengirim lebih banyak tentara ke Russia dan menempatkan kembali beberapa tentara ke garis depan di Kursk, kata badan mata-mata Korea Selatan (Korsel) kepada AFP pada Kamis (27/2).

Badan intelijen Korsel dan Barat mengatakan bahwa lebih dari 10.000 tentara dari negara tertutup itu dikirim ke Russia tahun lalu untuk membantunya memerangi serangan mendadak Ukraina ke wilayah perbatasan Kursk.

Ket. Foto: Pemimpin Korut, Kim Jong-un (tengah), menyapa pasukan tentara saat ia mengunjungi Universitas Politik Kim Il-sung di Pyongyang pada Senin (24/2) lalu. Pada Kamis (27/2), pihak intelijen Korsel melaporkan bahwa Korut telah mengirim lebih banyak tentara — Sumber: AFP/KCNA VIA KNS

Awal bulan ini, Seoul mengatakan tentara Korut yang sebelumnya bertempur bersama tentara Russia di garis depan Kursk tidak terlibat dalam pertempuran sejak pertengahan Januari. Ukraina juga mengatakan mereka telah ditarik setelah mengalami kerugian besar.

Pada Kamis, seorang pejabat dari Badan Intelijen Nasional Seoul mengatakan mereka telah "ditugaskan kembali" di sana. “Hal itu terjadi bersamaan dengan beberapa pengerahan pasukan tambahan yang tampaknya telah terjadi," ucap pejabat itu. "Skala pastinya masih dikaji," imbuh dia.

Baik Moskwa maupun Pyongyang belum mengkonfirmasi pengerahan pasukan tersebut. Namun kedua negara sebelumnya telah menandatangani perjanjian, termasuk klausul pertahanan bersama, ketika Presiden Russia, Vladimir Putin, melakukan kunjungan langka ke Korut tahun lalu.

Ukraina sebelumnya mengatakan pihaknya menangkap atau membunuh beberapa tentara Korut di Kursk. Presiden Volodymyr Zelenskyy juga telah merilis rekaman interogasi terhadap apa yang dia katakan sebagai tahanan Korut yang ditangkap oleh tentara Ukraina di sana.

Dan bulan ini, surat kabar Chosun Ilbo di Seoul menerbitkan wawancara dengan seorang tentara Korut yang menggambarkan terjadinya pertempuran brutal di garis depan. Prajurit itu, yang terlihat terluka, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa banyak rekan prajurit Korut yang terbunuh oleh pesawat tak berawak dan tembakan artileri.

"Semua orang yang bergabung dengan tentara bersama saya sudah meninggal," ungkap dia.

Pyongyang dan Moskwa telah memperdalam hubungan politik, militer, dan budaya sejak invasi Russia ke Ukraina pada Februari 2022. Dalam surat tahun barunya, pemimpin Korut, Kim Jong-un, memuji Putin dan kemungkinan merujuk pada perang di Ukraina. Ia mengatakan tahun 2025 akan menjadi tahun ketika tentara dan rakyat Russia mengalahkan neo-Nazisme dan meraih kemenangan besar.

Pada Rabu (26/2) lalu, media pemerintah Korut melaporkan Kim Jong-un telah mengunjungi akademi militer utama dan mendesak agar pasukannya untuk memanfaatkan pengalaman nyata dari peperangan modern.

Laporan FBI

Sementara itu pada Rabu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menuduh Korut berada di balik pencurian aset digital senilai 1,5 miliar dollar AS pada pekan lalu, yang merupakan pencurian kripto terbesar dalam sejarah.

Bursa mata uang kripto yang berbasis di Dubai, Bybit, pekan lalu melaporkan bahwa mereka telah dirampok senilai 400.000 dalam mata uang kripto Ethereum.

Menurut perusahaan, penyerang mengeksploitasi protokol keamanan selama transaksi, yang memungkinkan mereka mentransfer aset ke alamat yang tidak diketahui. Pemerintah AS menuding Pyongyang atas perampokan ini.

"(Korut) bertanggung jawab atas pencurian aset virtual sekitar 1,5 miliar dollar AS dari bursa mata uang kripto Bybit," kata FBI.

Biro tersebut mengatakan kelompok yang disebut TraderTraitor, juga dikenal sebagai Grup Lazarus, berada di balik pencurian tersebut dan juga serangkaian pencurian lainnya.  Program perang siber Korut dimulai setidaknya sejak pertengahan tahun 1990-an, dan negara tersebut dijuluki pencuri siber paling produktif di dunia oleh sebuah firma keamanan siber.

Panel Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penghindaran sanksi Korut tahun lalu memperkirakan negara itu telah mencuri lebih dari 3 miliar dollar AS dalam bentuk mata uang kripto sejak 2017. Uang yang dicuri diduga dialirkan untuk mendanai program senjata nuklir negara itu, kata panel tersebut. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.