Seoul: Korut Kirim Lebih Banyak Pasukan ke Russia
- Korea Utara
SEOUL - Korea Utara (Korut) telah mengirim lebih banyak tentara ke Russia dan menempatkan kembali beberapa tentara ke garis depan di Kursk, kata badan mata-mata Korea Selatan (Korsel) kepada AFP pada Kamis (27/2).

Ket. Pemimpin Korut, Kim Jong-un (tengah), menyapa pasukan tentara saat ia mengunjungi Universitas Politik Kim Il-sung di Pyongyang pada Senin (24/2) lalu. Pada Kamis (27/2), pihak intelijen Korsel melaporkan bahwa Korut telah mengirim lebih banyak tentara
Doc: AFP/KCNA VIA KNS
Badan intelijen Korsel dan Barat mengatakan bahwa lebih dari 10.000 tentara dari negara tertutup itu dikirim ke Russia tahun lalu untuk membantunya memerangi serangan mendadak Ukraina ke wilayah perbatasan Kursk.
Awal bulan ini, Seoul mengatakan tentara Korut yang sebelumnya bertempur bersama tentara Russia di garis depan Kursk tidak terlibat dalam pertempuran sejak pertengahan Januari. Ukraina juga mengatakan mereka telah ditarik setelah mengalami kerugian besar.
Pada Kamis, seorang pejabat dari Badan Intelijen Nasional Seoul mengatakan mereka telah "ditugaskan kembali" di sana. “Hal itu terjadi bersamaan dengan beberapa pengerahan pasukan tambahan yang tampaknya telah terjadi," ucap pejabat itu. "Skala pastinya masih dikaji," imbuh dia.
Baik Moskwa maupun Pyongyang belum mengkonfirmasi pengerahan pasukan tersebut. Namun kedua negara sebelumnya telah menandatangani perjanjian, termasuk klausul pertahanan bersama, ketika Presiden Russia, Vladimir Putin, melakukan kunjungan langka ke Korut tahun lalu.
Ukraina sebelumnya mengatakan pihaknya menangkap atau membunuh beberapa tentara Korut di Kursk. Presiden Volodymyr Zelenskyy juga telah merilis rekaman interogasi terhadap apa yang dia katakan sebagai tahanan Korut yang ditangkap oleh tentara Ukraina di sana.
Dan bulan ini, surat kabar Chosun Ilbo di Seoul menerbitkan wawancara dengan seorang tentara Korut yang menggambarkan terjadinya pertempuran brutal di garis depan. Prajurit itu, yang terlihat terluka, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa banyak rekan prajurit Korut yang terbunuh oleh pesawat tak berawak dan tembakan artileri.
Anda mungkin tertarik:
"Semua orang yang bergabung dengan tentara bersama saya sudah meninggal," ungkap dia.
Pyongyang dan Moskwa telah memperdalam hubungan politik, militer, dan budaya sejak invasi Russia ke Ukraina pada Februari 2022. Dalam surat tahun barunya, pemimpin Korut, Kim Jong-un, memuji Putin dan kemungkinan merujuk pada perang di Ukraina. Ia mengatakan tahun 2025 akan menjadi tahun ketika tentara dan rakyat Russia mengalahkan neo-Nazisme dan meraih kemenangan besar.
Pada Rabu (26/2) lalu, media pemerintah Korut melaporkan Kim Jong-un telah mengunjungi akademi militer utama dan mendesak agar pasukannya untuk memanfaatkan pengalaman nyata dari peperangan modern.
Laporan FBI
Sementara itu pada Rabu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menuduh Korut berada di balik pencurian aset digital senilai 1,5 miliar dollar AS pada pekan lalu, yang merupakan pencurian kripto terbesar dalam sejarah.
Bursa mata uang kripto yang berbasis di Dubai, Bybit, pekan lalu melaporkan bahwa mereka telah dirampok senilai 400.000 dalam mata uang kripto Ethereum.
Menurut perusahaan, penyerang mengeksploitasi protokol keamanan selama transaksi, yang memungkinkan mereka mentransfer aset ke alamat yang tidak diketahui. Pemerintah AS menuding Pyongyang atas perampokan ini.
"(Korut) bertanggung jawab atas pencurian aset virtual sekitar 1,5 miliar dollar AS dari bursa mata uang kripto Bybit," kata FBI.
Biro tersebut mengatakan kelompok yang disebut TraderTraitor, juga dikenal sebagai Grup Lazarus, berada di balik pencurian tersebut dan juga serangkaian pencurian lainnya. Program perang siber Korut dimulai setidaknya sejak pertengahan tahun 1990-an, dan negara tersebut dijuluki pencuri siber paling produktif di dunia oleh sebuah firma keamanan siber.
Panel Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penghindaran sanksi Korut tahun lalu memperkirakan negara itu telah mencuri lebih dari 3 miliar dollar AS dalam bentuk mata uang kripto sejak 2017. Uang yang dicuri diduga dialirkan untuk mendanai program senjata nuklir negara itu, kata panel tersebut. AFP/I-1