Kejar Pertumbuhan Agresif, Keuntungan atau Risiko Ekonomi?

Sabtu, 15 Feb 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Pemerintah diminta jangan terlalu mengejar target pertumbuhan ekonomi tinggi berbasis pendekatan moneter yang berfokus pada pengaruh pasokan uang terhadap perekonomian. Pendekatan seperti ini bisa menjebak suatu negara, bahkan jika tak ditopang struktur ekonomi kuat.

Pemerhati isu kemiskinan Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menjelaskan, dengan simulasi sederhana, asumsi pertumbuhan penduduk 1 per per tahun, pertumbuhan ekonomi 6 persen dan kurs dollar tetap, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia baru memcapai kategori high income country, yaitu melewati angka 12 ribu dollar AS pada 2043.

Ket. Foto: Pembangunan Ekonomi - Strategi Perekonomian Jangan Abaikan Azas Pemerataan dan Keadilan — Sumber: istimewa

Pendekatan ini sering dijadikan acuan untuk melihat upaya menuju Indonesia maju saat 100 tahun Indonesia pada 2045. Namun pemahaman tentang negara maju perlu dicermati secara hati-hati.

"Jangan sampai yang dikejar hanya pendekatan secara monetar yang justru akan menjebak untuk mendorong pertumbuhan signifikan terus menerus dengan mengabaikan dampak dari kualitas pembangunan yang merata dan dirasakan oleh masyarakat," tegasnya.

Hafidz mencontohkan eksploitasi sumber daya alam (SDA) berlebihan atau proses hilirisasi yang berorientasi pragmatis dalam meningkatkan laju pertumbuhan secara drastis namun tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan maupun multiplier effect ekonominya.

Untuk mencapai status negara maju, pertumbuhan harus konsisten di atas 6 persen sehingga strategi yang diperlukan harus berkelanjutan dan mengedepankan multiplier effect, misalnya untuk komoditas mineral seperti nikel, terbukti hilirisasi mampu menaikkan laju pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) hingga dua digit di 2 provinsi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Namun, lanjutnya, umur cadangan nikel yang ada bila menggunakan skala eksploitasi yang sekarang maka estimasi hanya bertahan 15-20 tahun saja, apabila produksi ditambah akan lebih cepat lagi durasinya, akibatnya pasca sumber daya tersebut habis justru akan terjadi penurunan.

"Fenomena ini menunjukan gejala 'Growth without development', di mana pertumbuhan tinggi tetapi tak berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar, melainkan hanya perputaran semu saja," tegasnya.

Indonesia, menurutnya, bisa belajar dari Tiongkok, dimana secara moneter Tiongkok baru masuk ke level negara high income pada 2022. Namun secara kualitas infrastruktur, SDM dan daya saing ekonomi Tiongkok sudah satu dekade sebelumnya mampu bersaing dengan negara-negara maju.

Sebelumnya, Bank Dunia menekankan ekonomi Indonesia harus tumbuh minimal 6 persen per tahun untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2035. Direktur Negara Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Carolyn Turk menegaskan meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di angka 5 persen, diperlukan reformasi lebih lanjut untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor swasta.

Pertumbuhan Berkualitas

Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa mengatakan Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi berkualitas, inklusif, transformatif, demokratis, dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi ini didorong peningkatan produktivitas ekonomi rakyat, berbasis produk lokal, koperasi dan UMKM, serta ramah lingkungan.

Pertumbuhan itu ditopang fundamental ekonomi kokoh, sehingga tidak rentan terhadap gejolak dan krisis ekonomi/ keuangan global. "Pertumbuhan ekonomi seperti ini tidak hanya meningkatkan pendapatan per kapita, tetapi juga mendorong transformasi dan demokratisasi ekonomi nasional," tegasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

Satu Dekade EMOS Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Pemkot Kembali Gelar Bandung Great Sale 2026

Bank Mandiri Perkuat Sinergi dengan Garuda Indonesia lewat GATF 2026, Bidik Transaksi Travel Nasabah

Pemkot Bandung Upayakan Akses Air Bersih bagi Warga Cihanja

Bareskrim Polri Ungkap 5 Kasus Perdagangan Orang dengan Modus Pengantin Pesanan

Pemkot Bandung Segera Tanam Kembali Pohon di Jalan RE Martadinata

Sequis Life Dorong Perempuan Wirausaha Perkuat Fondasi Finansial dan Jaringan Bisnis

MPR Tegaskan Hari Konstitusi Bukan Sekadar Seremonial

Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup Imbas Kebakaran Tahura Raden Soerjo, Begini Tata Cara Reschedule Tiket!

Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Lagi! Walkot Farhan: Jam Operasionalnya Pukul 08.00-16.00 WIB

Kabar Gembira! Anggota DPR Desak Pemerintah Realisasikan Sekolah SD-SMP Gratis Sesuai Amanat Putusan MK

Bimo/Arlya Tersingkir di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Fokus dan Mental Jadi Evaluasi Utama

Pullman Jakarta Central Park Gandeng Alethea Sposa Hadirkan Koleksi Mooncake Eksklusif

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.