Mubyarto Institute: Praktik Perekonomian Kental dengan Derajat Penghisapan. Segelintir Orang Kuasai Sumber Ekonomi
Kamis, 06 Feb 2025, 12:24 WIBJAKARTA-Distribusi kekayaan di Indonesia masih jauh dari harapan. Kelompok kaya yang hanya segelintir orang menguasai mayoritas sumber ekonomi negara.Â
Peneliti Mubyarto Institute Yogyakarta, Awan Santosa menegaskan bahwa praktik perekonomian di Indonesia sangat kental dengan "derajat penghisapan". Yang mana orang kaya menghisap begitu banyak sumber sumber ekonomi negara.
PDB (produk domestik bruto) per kapita yang dipaparkan BPS menurut Awan belum sepenuhnya dapat menjadi cerminan kesejahteraan rakyat. Mesti dilihat dulu kontribusi ekonomi rakyat dalam struktur PDB tersebut serta dikomparasikan dengan pengeluaran per kapita.Â
"Sesuai teori Prof. Mubyarto, jika PDB per kapita tinggi tetapi pengeluaran per kapita rendah maka itu mengindikasikan "derajat penghisapan" yang tinggi di Indonesia,"tegas Awan
Awan merinci, ketimpangan dalam struktur PDB terlihat dari 0,01 persen usaha besar yang menguasai hampir 40 persen dari PDB Indonesia, sementara UMKM yang meliputi 99 persen lebih pelaku ekonomi Indonesia menguasai 60,51 persen saja dari PDB.
"Intinya distribusi kekayaan itu tidak ada. Ketimpangan masih lebar, dilihat juga dari penguasaan aset, lahan, dan simpanan di bank,"papar Awan.
Badan Pusat Statistik pada Rabu (5/2) menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia pada 2024 mencapai 78,62 juta atau 4.960,33 dollar Amerika Serikat (AS) naik dibanding pencapaian pada 2023 sebesar 75 juta rupiah.Â
Pelaksana Tugas Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam keterangannya di Jakarta, menyatakan bahwa PDB per kapita menjadi salah satu indikator tidak langsung dari besaran pendapatan per kapita, sehingga sering digunakan untuk menilai tingkat kemakmuran suatu wilayah.
Adapun nilai PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) pada tahun lalu mencapai 22.138,96 triliun rupiah meningkat dari 20.892,4 triliun rupiah pada 2023. Meskipun capaian PDB dan PDB per kapita meningkat, ia menyatakan bahwa perekonomian Indonesia secara kumulatif (c-to-c) tumbuh melambat pada 2024 dibandingkan pada 2023.
âEkonomi Indonesia tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03 persen, melambat dibanding capaian tahun 2023 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,05 persen,â kata Amalia.
Pelambatan pertumbuhan tersebut sejalan dengan prediksi International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan melambat ketimbang 2023 tetapi masih lebih tinggi daripada capaian global.
Proyeksi terbaru IMF per Januari 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang turun menjadi 4,2 persen pada 2024 dari 4,4 persen pada 2023. Begitu juga ekonomi global yang diprediksi turun ke level 3,2 persen dari sebelumnya 3,3 persen.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Toyota Alphard Hantam Bodi Belakang Truk di Tol Kuningan
-
Gandeng Choi Minho SHINee, LG Perkenalkan Konsep Rumah Pintar Modern di Indonesia
-
Bank Mandiri Taspen Buka 3 Posko Pengaduan Korban Penipuan Eks Pegawai di Banyumas
-
ASDP Operasikan 29 Kapal untuk Distribusi Logistik Ketapang-Gilimanuk
-
Penduduk Miskin Turun Jadi 8,07 Persen pada Maret 2026
-
Memperkenalkan Geografi dan Sains ke Anak-anak di Tembagapura
-
PT KAI Hadirkan Promo Tiket 20 Persen di Pekan Raya Sumatera Utara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.