Percepat Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat, Pendekatan Kolaboratif Jadi Kunci Ciptakan Desa Mandiri

Selasa, 28 Jan 2025, 01:00 WIB

TANJUNGPINANG - Semua pihak terkait hendaknya fokus pada desa sebagai pusat pemerataan pembangunan nasional, karena desa adalah poros fundamental bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Untuk itu, pendekatan kolaboratif antara masyarakat, perguruan tinggi, sektor swasta, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan desa yang mandiri dan sejahtera.

Demikian dikatakan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Abdul Haris dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (25/1).

Ket. Foto: Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM Abdul Haris dalam FGD di Kampus UMRAH, Pulau Dompak, Tanjungpinang, Sabtu (25/1). — Sumber: ANTARA/HO-UMRAH

Seperti dikutip dari Antara, Haris menyampaikan berbagai data dan strategi yang relevan, salah satunya fakta sebesar 53 persen penduduk miskin Indonesia berada di desa.

“Hal ini pentingnya fokus pada desa sebagai pusat pemerataan pembangunan nasional. Desa adalah poros fundamental bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” kata Haris.

Menurutnya, kolaborasi multipihak sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan pembangunan desa. Peran perguruan tinggi dianggap krusial, baik dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, maupun melalui penelitian inovatif yang mendukung ekonomi lokal.

Pelatihan Keterampilan

Salah satu rekomendasi utama dari FGD ini adalah perlunya digitalisasi layanan desa serta penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan keterampilan dan pendidikan.

"Makanya ditekankan pentingnya pendekatan holistik untuk menciptakan desa yang tidak hanya maju secara ekonomi tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan sosial dan lingkungan," ujarnya.

Sementara, Rektor UMRAH, Agung Dhamar Syakti menyampaikan sebagai perguruan tinggi yang berbasis maritim dan berlokasi strategis di wilayah Kepri, UMRAH memiliki peran penting dalam mendukung pemberdayaan desa melalui riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat.

Rektor menyatakan FGD ini mencerminkan dedikasi kampus dalam menjadikan desa-desa di Kepri sebagai model pembangunan berkelanjutan. FGD ini bukan hanya diskusi, tetapi juga langkah nyata untuk menjawab tantangan pembangunan desa di tengah dinamika global.

"UMRAH siap menjadi penggerak inovasi dan solusi berbasis akademik untuk mengembangkan desa binaan,” ujarnya.

Rektor turut memaparkan studi kasus desa binaan di wilayah Kepri yang diinisiasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Konsep desa binaan berkelanjutan yang dibahas mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan tujuan mendorong optimalisasi potensi lokal dan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan daya saing desa.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.