Semua WNI di Negara Ini Harus Waspada, Kemlu RI Tetapkan Status Siaga Tertinggi untuk Seluruh Wilayah Suriah
Senin, 09 Des 2024, 02:00 WIBJAKARTA â Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan KBRI Damaskus telah menetapkan status siaga tertinggi untuk seluruh wilayah Suriah menyusul eskalasi perang saudara yang mencapai Ibu Kota Damaskus.
âKBRI Damaskus tela menetapkan status Siaga 1 untuk seluruh wilayah Suriah. Sebelumnya, Siaga 1 hanya diterapkan pada beberapa wilayah seperti Aleppo dan Hama,â demikian menurut Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kemlu RI, Judha Nugraha, melalui pernyataan tertulis, Minggu (8/12).
Seperti dikutip dari Antara, menindaklanjuti penetapan Siaga 1, Kemlu RI dan KBRI Damaskus melakukan pertemuan secara virtual dengan masyarakat Indonesia di Suriah pada Sabtu (7/12) untuk memberikan informasi terkini soal situasi keamanan dan langkah-langkah kontingensi, termasuk evakuasi.
âImbauan kepada para WNI untuk memperhatikan kondisi keamanan setempat juga dilakukan secara rutin,â kata Direktur PWNI Kemlu RI.
Mengingat situasi di Suriah yang masih sangat dinamis, Kemlu RI maupun KBRI Damaskus serta Perwakilan RI di Timur Tengah terus memperhatikan secara dekat perkembangan situasi di negara tersebut.
Judha mengatakan saat ini masih ada 1.162 WNI yang sebagian besar adalah pekerja migran, menetap di Suriah. Meski mereka tersebar di berbagai provinsi, mayoritas dari mereka menetap di Damaskus.
Memasuki Damaskus
Kelompok bersenjata anti-rezim Bashar Al-Assad dilaporkan memasuki Damaskus dari sisi selatan Ibu Kota Suriah itu pada Sabtu. Kota tersebut pun takluk pada kelompok oposisi pada Minggu, usai pasukan rezim Al-Assad kehilangan kendalinya.
Pertempuran di Damaskus menjadi babak akhir dari eskalasi pertempuran antara pasukan rezim dan kelompok oposisi yang pecah pada 27 November lalu dan dimulai di kawasan pedesaan di barat Aleppo di Suriah utara.
Cepatnya pergerakan kelompok oposisi mengejutkan pasukan militer Suriah, dan rezim Al-Assad pun kehilangan kendali terhadap satu per satu wilayah di negara itu, dimulai dari Idlib, Aleppo pada 30 November, dan Hama pada 5 Desember.
Gelombang protes terhadap rezim dimulai pada Sabtu (7/12) malam di sejumlah wilayah permukiman. Sementara itu, pasukan rezim ditarik dari sejumlah lokasi strategis, seperti Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, dan bandara internasional.
Dengan masuknya para demonstran ke area-area krusial, rezim Assad kehilangan sebagian besar kendali atas Ibu Kota.
Di Penjara Sednaya di Damaskus, yang terkenal sebagai simbol kekuasaan rezim dan praktik penyiksaan yang keji, para tahanan dibebaskan oleh demonstran yang menyerbu fasilitas tersebut.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Wasur, Gerbang Ekologis Antara Asia dan Australia
-
Kereta Dhoho Hantam Truk Muatan Pasir yang Mogok di Blitar
-
Indonesia Usul Sidang Darurat DK PBB Gandeng Prancis Terkait Gugurnya Pasukan UNIFIL
-
Gencatan Senjata di Timur Tengah Terancam Setelah Iran Lancarkan Serangan Rudal ke Israel
-
JD Vance: Kekuatan Militer Bukan Solusi
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.