PLN Bangun Ekosistem Biomassa Berbasis Kerakyatan
Senin, 25 Nov 2024, 00:00 WIBJAKARTA - Subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendukung penuh target transisi energi di Indonesia salah satunya dengan pengembangan ekosistem biomassa sebagai bahan baku utama cofiring di PLTU. Untuk itu, Perusahaan plat merah tersebut berkolaborasi dengan petani sehingga mengungkit ekonomi lokal.
Vice President Strategi Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari dalam Knowledge Hub bertajuk Cofiring Biomass Technology: Biomass Supply Chain & Feedstock Management di ajang Electricity Connect 2024, Jumat (22/11), menjelaskan PLN EPI mengembangkan ekosistem biomassa berbasis ekonomi kerakyatan. "Biomassa mampu menjadi salah satu faktor pengurangan emisi di PLTU, sekaligus mampu mendorong perekonomian rakyat," ucapnya.
PLN EPI juga telah membangun rantai pasok biomassa yang terintegrasi untuk memastikan stabilitas pasokan ke PLTU. Strategi ini mencakup pembangunan hub dan sub-hub di sekitar PLTU serta optimalisasi logistik menggunakan transportasi darat, laut, dan sungai. Biomassa yang digunakan mencakup limbah replanting karet, serbuk sagu, batang singkong, hingga produk tanaman energi, seperti Indigofera.
Pertanian Terpadu
Anita menjelaskan contoh konkret pemanfaatan biomassa oleh PLN EPI melalui Green Economy Village (GEV). Di Tasikmalaya misalnya 30 hektar lahan ditanami 30.000 bibit Indigofera dan tanaman tumpang sari, seperti cabai dan singkong. Program ini tidak hanya menghasilkan biomassa tetapi juga pakan ternak, pupuk organik, dan pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal.
"Melalui konsep pertanian terpadu, kami memanfaatkan lahan kritis untuk tanaman energi. Model ini mendukung keberlanjutan pasokan biomassa dan juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melibatkan lebih dari 330 petani di berbagai wilayah," tambah Anita.
Di Lampung, pemanfaatan batang singkong mampu menggantikan 2.500 ton batu bara per bulan, melibatkan 23 pekerja dengan pendapatan rata-rata80.000 rupiah per hari. Sementara di Aceh, pemanfaatan sekam padi menyerap 24 tenaga kerja dengan kapasitas 300 ton per bulan.
"Program ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Dengan memanfaatkan limbah, kita menciptakan peluang kerja bagi masyarakat lokal sekaligus mendukung transisi energi hijau," jelas Anita.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
ITS Ubah Limbah Peternakan dan Pertanian di Papua Barat Jadi Energi
-
Kejari Bekasi Bantah Isu Dirut Tirta Bhagasasi Jadi Tersangka, Surat Penetapan yang Beredar Ternyata Dimodifikasi
-
Dukung EBT Nasional, Barata Indonesia Kirim Reaktor B100 ke Kalsel
-
Manufaktur Diperkuat, Keyakinan Konsumen Dibangun
-
Tanggul Jebol di Tapanuli Tengah, Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi
-
Jangan Asal Bicara! Sandrica Sampaikan Pesan Adab Bertutur Lewat Lagu Berjudul Seribu Kata Positif
-
Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon, ESGIN dan ASPEBINDO Jalin Kolaborasi Strategis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.