Trump Akan Jatuhkan Sanksi Ekonomi ke Negara yang Membantu Iran

Jumat, 21 Agu 2026, 00:40 WIB

Konflik Timur Tengah

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Rabu (19/8), mengatakan telah meluncurkan kampanye besar baru untuk menargetkan ekonomi Iran.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. — Sumber: Jim WATSON/AFP

Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi berat pada negara mana pun yang membantu atau berbisnis dengan republik Islam tersebut.

Kampanye tekanan ekonomi yang semakin intensif itu terjadi ketika perang mendekati bulan keenam tanpa adanya jalan keluar diplomatik atau militer yang segera terlihat dan Selat Hormuz yang vital masih terhambat secara signifikan.

Dengan pemilihan umum bulan November yang semakin dekat, Trump juga menghadapi pengawasan domestik terutama yang terkait dengan biaya perang terhadap konsumen AS dan dampaknya terhadap militer.

“Hari ini, saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara manapun! Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Trump di Truth Social.

“Negara mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” katanya.

Kendati demikian, dia tidak merinci hukuman apa yang akan dihadapi negara-negara tersebut, dan tidak ada negara lain selain Iran yang disebutkan namanya.

Trump menyebut beberapa aktivitas yang menurutnya perlu segera dihentikan, seperti penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang, transfer uang tunai, rumah pertukaran, pendaftaran kapal, dan perusahaan fiktif.

Isolasi Ekonomi

Menteri Keuangan Scott Bessent, pada pekan lalu juga mengatakan bahwa AS akan segera meningkatkan upaya untuk mengisolasi Iran secara ekonomi, sebagai bagian dari pendekatan dua arah dengan blokade angkatan laut AS.

“Ini akan menjadi kombinasi isolasi ekonomi, seperti yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya,” kata Bessent kepada jaringan televisi konservatif Newsmax.

Selama berbulan-bulan, Departemen Keuangan AS telah melakukan upaya yang disebut Operasi Kemarahan Ekonomi, yang bertujuan untuk memutus pendanaan Iran dengan sanksi yang ditargetkan.

Iran sendiri telah menunjukkan sikap menantang, setelah berhasil bertahan dari operasi militer AS selama berbulan-bulan yang gagal mengakhiri perang secara tuntas dan menurut laporan media AS telah mengurangi secara drastis persediaan amunisi AS.

Pentagon membantah laporan- laporan tersebut.

Trump pada Rabu memuji upaya militer AS untuk membantu kapal-kapal keluar dari selat tersebut, dengan mengatakan “saat ini, banyak kapal yang sedang melewatinya.”

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Aturan Baru Buang Sampah di Makassar: Jam Operasional, Sanksi, dan Retribusi Digital

Serbu Tiket Libur Panjang! PT KAI Bandung Siapkan 60 Ribu Kursi, Kehabisan Jangan Sampai Kehabisan

Kanwil Kemenkum Babel Jalani Desk Evaluasi WBBM Bersama Tim Penilai Nasional KemenPAN-RB.

Bernilai Rp20 Miliar! Bea Cukai Jakarta Bakar Jutaan Rokok Ilegal dan Miras, Ini Hasil Operasinya

Bukan Cuma Pantai! Rahasia "Jelajah Rasa" Pulau Nangka Bikin Wisatawan Ketagihan, Ini Rahasianya

Perbaikan Subsidi harus Bersamaan dengan Percepatan Transisi ke Energi Terbarukan

Biaya Logistik Tinggi, Ikut Menambah Beban Keuangan Masyarakat

Trump Akan Jatuhkan Sanksi Ekonomi ke Negara yang Membantu Iran

Independensi BI Jadi Benteng Stabilitas Ekonomi

Inflasi Tinggi, The Fed Siapkan Kenaikan Bunga

Pemerintah Bantah Terlibat "Transshipment" Tiongkok

Krisis Iklim Picu Rekor Runtuhan Batu di Pegunungan Alpen

Tijjani Reijnders Tinggalkan Manchester City, Gabung Al Qadsiah

Kejuaraan Dunia BWF 2026: Tiga Wakil Indonesia Tembus Perempat Final, Ana/Trias Singkirkan Unggulan Asal Malaysia

Bejlek Bikin Kejutan, Sabalenka Tersingkir di Cincinnati Open

Carlos Sainz Perpanjang Kontrak, Bertahan di Williams hingga Beberapa Musim ke Depan

Trailer Terbaru The Terminal List Season 2: James Reece Memburu Konspirasi dari Moskow hingga Langley

UEFA, AFC, dan CONCACAF Pertimbangkan Mosi Tidak Percaya untuk Lengserkan Gianni Infantino

Korban Gempa M 7,7 NTT Bertambah Jadi 75 Orang, Gempa Susulan Masih Terjadi

Tim Satgas Bencana ITS Pantau Kekuatan Infrastruktur NTT Pascagempa M7,7

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.