Filolog: Cerita Panji Masih Relevan, Banyak Kisahkan Perbedaan Kelas
Rabu, 23 Okt 2024, 16:56 WIBJAKARTA - Filolog Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Adi Wisnurutomo menyatakan bahwa cerita Panji masih relevan hingga kini karena banyak mengisahkan tentang perbedaan kelas sosial.
"Cerita Panji sering menggunakan konflik perbedaan kelas sosial. Kisah di dalamnya disajikan dengan adanya karakter dengan perbedaan kelas sosial dalam masyarakat yang diawali dengan konflik dan berakhir dengan cerita cinta bahagia," katanya di Perpusnas, Jakarta, Selasa.
Ia menyebutkan beberapa dongeng tentang perbedaan kelas, misalnya Ande-Ande Lumut dari Jawa, di mana salah satu tokohnya, Klenting Kuning yang diperlakukan tidak adil oleh ketiga saudaranya (Klenting Merah, Klenting Hijau, dan Klenting Biru).
Selain itu, cerita tentang Bawang Merah dan Bawang Putih yang sudah sering dikisahkan dari mulut ke mulut juga mengangkat perbedaan kelas sosial, dan terinspirasi dari cerita Panji.
"Bahkan tidak hanya kelas sosial, tetapi juga perbedaan wujud seperti cerita Kethek Ogleng (pertunjukan tari dari Ponorogo dengan kera sebagai tokoh utama). Penggunaan pola yang sama ini menunjukkan bahwa pembahasan dan konflik terkait kesenjangan masih dianggap relevan dari masa ke masa," ucap Adi.
Ia juga mengemukakan dalam ranah politik, cerita Panji tidak hanya melibatkan tokoh-tokoh yang berasal dari Jawa saja, meskipun latar utamanya adalah kerajaan dan daerah-daerah yang berada di Jawa bagian Timur.
"Cerita Panji tidak jarang berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari luar Jawa, bahkan, pada beberapa kisah, Panji akan menjadi tokoh yang tidak berasal dari Jawa," ujar dia.
Ia menyebutkan dua tokoh dari kisah Panji yakni Sabrang (yang kemudian diartikan sebagai menyeberang), dan Klana (diartikan sebagai berkelana), di mana sebutan tersebut merujuk pada tokoh-tokoh dari kerajaan lain seperti Makassar, Bengkulu, hingga Banda.
"Banyak spekulasi yang muncul tentang siapa Klana sebenarnya, mulai dari sindiran terhadap musuh-musuh Majapahit, Raden Patah (raja Muslim pertama di Jawa), hingga pemberontak Trunajaya, Pangeran Adipati Anom, atau beberapa tokoh sejarah lainnya," tuturnya.
Kisah Panji menjelma dalam berbagai rupa kesenian, seperti dalam relief, pertunjukan tari, wayang, dongeng, hingga karya sastra.
Pameran Cerita Panji: Prahara, Kembara, Asmara berlangsung selama 22-24 Oktober di Perpusnas, selain itu, Perpusnas juga berkolaborasi bersama Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Panji pada tanggal yang sama di Gedung Kesenian Jakarta. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara, Opik
Berita Terkait:
-
Waspada! Siklon Jenna di Samudra Hindia Barat Daya, BMKG Ingatkan Picu Gelombang Laut Enam Meter
-
Rehabilitasi Perpustakaan untuk Hidupkan Semangat Belajar di Kebumen
-
Festival Budaya Nusantara Manokwari, Panggung Besar Promosi Pariwisata Papua Barat
-
BINUS University Resmi Wisuda 7.096 Mahasiswa, Tingkat Penyerapan Kerja Capai 78,88%
-
Literasi Warga Jakarta Meningkat di 2025, Kunjungan Perpustakaan Naik Tajam
-
Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2026: Belanda dan Denmark Tampil Perkasa
-
Mengoptimalkan Layanan Perpustakaan untuk Meningkatkan Wawasan Warga Binaan Pemasyarakatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.