Usaha pariwisata Gili Tramena terancam mati akibat krisis air bersih
Selasa, 08 Okt 2024, 17:24 WIBMATARAM - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB mengingatkan, geliat usaha sektor pariwisata yang berada di kawasan Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena), Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terancam mati kalau krisis air bersih tidak segera ditangani.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Ni Ketut Wolini melalui keterangan resmi yang diterima Mataram, Selasa, meminta agar pemerintah daerah bisa segera mencarikan solusi, mengingat kunjungan wisatawan tujuan Gili Tramena cukup tinggi.
"Informasi yang saya terima, ada 3.000-an wisatawan datang ke tiga gili setiap hari. Itu mau diapakan? Kok pemerintah tidak ada solusi mengurus sekadar air," kata Wolini.
Ia menyayangkan apabila pemerintah daerah yang telah mengetahui persoalan ini, namun membiarkan situasi krusial tersebut.
"Tiga gili itu 'kan pulau kecil, masa tidak bisa dicarikan jalan keluar? Harus mentok seperti ini? Itu yang sangat saya sayangkan," ujarnya.
Wolini mengingatkan kembali bahwa industri pariwisata di Gili Tramena, baik dari perhotelan, restoran dan jasa lainnya mampu menyumbang sebesar 70 persen per tahun dari total pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Lombok Utara.
"'Kan andalan nomor satu dari pariwisata untuk PAD, kenapa tidak bisa dicarikan solusi?" ucapnya.
Selain masalah krisis air bersih, PHRI NTB juga menyoroti masih kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam membangun fasilitas kesehatan yang layak untuk menunjang destinasi tiga gili.
Pihaknya sudah menyuarakan agar pemerintah daerah membangun fasilitas kesehatan berstandar internasional. Sebab, kawasan wisata tiga gili sebagian besar dikunjungi wisatawan dari berbagai negara.
"Di sana mayoritas wisatawan asing, jadi harus berstandar internasional. Misalnya ada kejadian orang tenggelam, bagaimana penanganan secara internasional. Itu sampai sekarang belum, sekarang masalah air lagi, numpuk permasalahan di sana," kata Wolini.
Dia menyampaikan bahwa PHRI NTB tidak bisa tinggal diam melihat persoalan ini. Sehingga PHRI NTB dengan segala upaya berusaha mencarikan solusi bagi para pelaku usaha pariwisata di tiga gili agar mereka mampu menghadapi masalah krisis air bersih.
Tujuan dari upaya tersebut, tidak terlepas dari tujuan menjaga citra pariwisata NTB, khususnya kawasan Gili Tramena yang sudah terkenal di mata dunia.
"Solusi kita butuhkan, karena nama baik pariwisata, bukan gili saja, tapi NTB, dan nama Indonesia juga karena gili ini sudah mendunia, tidak nasional lagi, sudah dunia mengenal," ujarnya.
Ketua Asosiasi Hotel Gili Lalu Kusnawan turut mempertanyakan lambannya penanganan krisis air bersih di kawasan wisata tiga gili, mengingat air bersih merupakan kebutuhan vital bagi industri pariwisata.
Ia mendesak pemerintah agar mengambil langkah konkret dan cepat untuk menyelesaikan krisis air bersih di tiga gili.
"Solusi jangka panjang juga diperlukan untuk memastikan pasokan air bersih yang berkelanjutan dan terhindar dari gangguan di masa depan," kata Kusnawan.
- Pariwisata
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- air bersih
- Mataram
- NTB
- Kebutuhan Air Bersih
- Gili Trawangan
- Provinsi Nusa Tenggara Barat
- krisis air bersih
- bantuan air bersih
- PHRI
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Program MBG Ponorogo Kembali Normal Mulai 31 Maret
-
Jelang Lebaran, Pengiriman Paket di Kantor Pos Ternate Meningkat
-
Libur Lebaran, Telaga Sarangan Diserbu Hampir 70 Ribu Pengunjung
-
Bukan di Cappadocia, Intip Tradisi Balon Udara Raksasa 20 Meter yang Hiasi Langit Garut Saat Lebaran
-
Pementasan teater Nilonali Sang Putri Bungo Karang
-
Langkah Berani Presiden Perempuan Pertama Meksiko Wujudkan Kesetaraan Gender
-
Demi Harga Diri Bangsa: Ambisi Besar Kevin Diks Tumbangkan Bulgaria di Hadapan Publik Sendiri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.